Share

Siap-Siap, Biaya Hidup Membengkak Usai Harga BBM-Suku Bunga BI Naik

Advenia Elisabeth, MNC Portal · Jum'at 23 September 2022 16:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 23 320 2673692 siap-siap-biaya-hidup-membengkak-usai-harga-bbm-suku-bunga-bi-naik-zbTSpVAUeY.jpg Siap-Siap Biaya Hidup Membengkak (Foto: Okezone)

JAKARTA - Biaya hidup masyarakat bisa membengkak usai kenaikan harga BBM dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Tercatat, BI menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin (bps) menjadi 4,25%, dengan suku bunga deposit facility naik menjadi 3,5% dan suku bunga lending facility menjadi 5%.

Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, kenaikan suku bunga acuan BI ini bisa menjadi beban ganda bagi masyarakat usai kenaikan harga BBM.

"Masyarakat menjadi tertimpa beban ganda. Jadi masyarakat itu harus mengeluarkan biaya hidup ini jauh lebih mahal pasca kenaikan harga BBM dan harga pangan karena tertekan oleh inflasi. Sementara dari sisi pendapatan belum bisa pulih seperti pra pandemi," ujar Bhima kepada MNC Portal Indonesia, Jumat (23/9/2022).

BACA JUGA: Jangan Kaget! Bayar Cicilan Rumah Bisa Lebih Mahal 

Apalagi saat ini masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya pulih ekonominya karena dampak dari pandemi Covid-19.

Misalnya, masih ada masyarakat yang belum dipekerjakan selama penuh waktu, ada juga yang gajinya penuh atau masih dipangkas, lalu bonusnya yang belum cair.

 

Baca Juga: Presiden Jokowi Sebut Sistem Penyaluran BLT BBM yang Dijalankan Sudah Bagus

Lebih lanjut Bhima menuturkan, dari naiknya bunga acuan maka menciptakan kenaikan tingkat suku bunga pinjaman. Sehingga secara tidak langsung mendesak masyarakat untuk membayar cicilan jadi jauh lebih mahal. Seperti contohnya kredit untuk KPR.

"Nah ini akan mengancam banyak sekali anak muda kesulitan untuk bisa mencicil rumah melalui skema KPR. Atau misalnya mau membeli rumah tentu lokasinya menjadi sangat jauh dari tempat kerja yang mungkin bisa dua jam perjalanan karena harga rumahnya naik namun pendapatan tidak bisa mengimbangi kenaikan harga rumah sekaligus bunga pinjaman KPR, floting ratenya juga semakin mahal," katanya.

Bhima menambahkan, imbas dari naiknya BBM dan suku bunga acuan juga mengancam produsen otomotif.

Pasalnya, saat harga BBM naik pada 2014, penjualan sepeda motor mengalami penurunan sampai 14 persen.

Sementara saat ini, harga BBM subsidi dinaikkan lagi oleh pemerintah ditambah suku bunga acuan naik maka merembet pada bunga leasing juga akan naik, sehingga hal itu dapat menurunkan minat masyarakat untuk mengambil kredit kendaraan bermotor pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang.

"Ini kan sangat memukul produsen otomotif," pungkas Bhima.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini