Share

4 Kota yang Ramah Pejalan Kaki, Ada Jakarta?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Minggu 25 September 2022 20:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 25 470 2674672 4-kota-yang-ramah-pejalan-kaki-ada-jakarta-2h7YT77oNJ.jpg Jalan Kaki (Foto: Okezone)

JAKARTA - Terinspirasi oleh karantina wilayah yang berkepanjangan serta kekhawatiran soal keamanan di tengah pandemi Covid-19, sejumlah kota di seluruh dunia menjalankan inisiatif ramah pejalan kaki dan mendorong terciptanya lebih banyak ruang bebas kendaraan bermotor.

Ketika gelombang awal Covid mencegah pertemuan di dalam ruangan di sebagian besar negara di seluruh dunia, banyak kota merespons dengan berinovasi terkait kegiatan di luar ruangan.

Beberapa memperkenalkan jalanan khusus untuk pejalan kaki, mengubah tempat parkir menjadi tempat makan sementara, dan menambahkan lebih banyak jalur sepeda – ini mengubah area yang dulunya dipenuhi mobil menjadi tempat yang cocok untuk berjalan kaki dan bersepeda.

Perubahan ini membuahkan hasil, tidak hanya dalam peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi penelitian juga menunjukkan virus lebih lambat menular di lingkungan yang ramah pejalan kaki.

Dan sementara banyak tempat sekarang telah menghentikan inisiatif ini saat kehidupan kembali ke normal baru, beberapa kota berpegang teguh pada perbaikan infrastruktur bagi pejalan kaki dan mendorong terciptanya lebih banyak ruang bebas kendaraan bermotor.

Berikut adalah empat kota yang membuat sejumlah perubahan ramah pejalan kaki selama pandemi – dan mempertahankan banyak dari inisiatif tersebut untuk mendorong penduduk dan pengunjung berkeliling dengan berjalan kaki.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

1. Paris, Prancis

Bahkan sebelum pandemi, Paris telah memulai pergeseran untuk menjadi kota yang lebih ramah pejalan kaki.

Sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi jumlah mobil, dermaga bawah yang membentang di sepanjang sungai Seine sepenuhnya menjadi jalur pejalan kaki pada akhir 2016, sebuah langkah yang dibuat permanen pada 2018.

Pada tahun 2020, Walikota Anne Hidalgo terpilih kembali sebagian karena dukungannya terhadap "kota 15 menit": konsep perencanaan kota baru yang memungkinkan penduduk menyelesaikan semua tugas sehari-hari – mulai dari berbelanja, sekolah, hingga bekerja – dalam jarak berjalan kaki atau bersepeda selama 15 menit.

Pandemi, beserta berbagai pemogokan transportasi umum sebelum lockdown, hanya memperkuat popularitas inisiatif yang berpusat pada manusia dan ramah lingkungan ini.

"Keindahan berjalan kaki di Paris lebih disorot sejak Covid," kata Kathleen Peddicord, pendiri Live and Invest Overseas.

"Popularitas angkutan umum sudah lama menurun dan juga lebih tidak nyaman dengan harus memakai masker. Jadi, lebih banyak orang mulai menggunakan kaki mereka," tambahnya.

Jalur sepeda tambahan juga telah diperkenalkan untuk mengurangi lalu lintas mobil. Bahkan, kota ini berencana untuk menambah 180 kilometer jalur sepeda dan 180.000 tempat parkir sepeda pada tahun 2026.

2. Bogota, Kolombia

Sementara Bogota (dan Kolombia pada umumnya) sudah lama memiliki budaya bersepeda yang kuat - di mana bersepeda adalah olahraga nasional negara tersebut - pandemi mempercepat banyak perubahan infrastruktur bebas kendaraan bermotor.

Pada tahun 2020, Walikota Claudia Lopez menetapkan tambahan 84 km jalur sepeda sementara ke jaringan jalur sepeda Ciclorruta sepanjang 550 km yang ada di kota – yang sudah menjadi salah satu yang terbesar di dunia – dan sejak itu menjadikannya jalur permanen.

Bogota adalah salah satu kota pertama di dunia yang menambahkan jalur sepeda "pop-up" selama pandemi, dan penduduk telah memperhatikan perubahan permanen tersebut menjadi lebih baik.

"Kota ini benar-benar mulai mengembangkan suasana Amsterdam dan Kopenhagen yang nyata selama beberapa tahun terakhir," kata Alex Gillard, pendiri blog Nomad Nature Travel dan yang tinggal di Bogota selama pandemi.

3. Milan, Italia

Italia adalah salah satu negara yang paling terpukul pada awal masa pandemi, dan kota-kotanya harus beradaptasi dengan cepat untuk menyediakan alternatif transportasi umum.

Pada musim panas 2020, Milan memulai rencana ambisius untuk melebarkan trotoar dan memperluas jalur bersepeda sepanjang 35 km.

Perubahan tersebut telah mengubah kota itu, menghadirkan lebih banyak tempat makan di luar ruangan, pasar terbuka, dan taman kota. "Ini bukan Milan yang saya ingat dari 10 tahun lalu selama masa kuliah saya," kata penduduk Luisa Favaretto, pendiri situs Strategistico.

"Saya menyukai konsep kota 15 menit [rencana yang juga telah dieksplorasi Milan] dan tertarik dengan infrastruktur kota yang berkembang dengan memprioritaskan orang daripada mobil," lanjutnya

Dia melihat pertumbuhan dalam apa yang dia sebut rasa komunitas "dunia lama", karena ada lebih banyak alasan untuk berada di luar ruangan dan bertemu di ruang komunal.

Distrik CityLife, yang baru-baru ini dibangun, bukan hanya menjadi area bebas kendaraan bermotor terbesar di Milan tetapi juga salah satu zona bebas mobil terbesar di Eropa.

"Tempat itu dipenuhi dengan ruang hijau publik bersama dengan banyak jalur sepeda, dan menawarkan pandangan sekilas ke masa depan Milan yang berkelanjutan," kata Favaretto.

4. San Francisco, Amerika Serikat

Kota di California utara ini bergerak cepat di awal pandemi untuk meluncurkan Slow Streets – sebuah program yang menggunakan rambu dan pembatas untuk membatasi lalu lintas dan kecepatan mobil di 30 koridor dalam upaya menjadikannya lebih ramah bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda.

Menurut data yang dikumpulkan oleh kota itu, program ini melihat pengurangan 50% lalu lintas kendaraan, peningkatan 17% lalu lintas pejalan kaki pada hari kerja dan lonjakan sebesar 65% lalu lintas pengendara sepeda pada hari kerja.

Meskipun banyak jalanan telah dikembalikan ke status pra-pandemi, penduduk mendorong untuk membuat empat bagian permanen, termasuk di Golden Gate Avenue, Lake Street, Sanchez Street, dan Shotwell Street. Pada bulan September, pemungutan suara akan diadakan untuk menentukan koridor-koridor lainnya.

"Sangat menyenangkan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda motor untuk dapat berbagi jalan," kata Leith Steel, seorang penduduk setempat, soal jalan an yang masih ditutup. "Anda melihat keluarga berjalan-jalan, anak-anak bermain - itu adalah pengalaman yang jauh berbeda," tambahnya.

Dia juga mengatakan bahwa pemerintahan kota telah mengeluarkan dana dan upaya untuk membangun rute sepeda yang lebih baik dan ditandai dengan lebih jelas daripada sebelumnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini