Share

Link Net (LINK) Dapat Pembiayaan Syariah Rp1,5 Triliun

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Rabu 28 September 2022 12:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 28 278 2676558 link-net-link-dapat-pembiayaan-syariah-rp1-5-triliun-Q3VAtfHe7J.jpg Ilustrasi saham. (Foto: Freepik)

JAKARTA - PT Link Net Tbk (LINK) meraih fasilitas pembiayaan syariah senilai Rp1,5 triliun dari PT Bank Permata Tbk (BNLI) pada tanggal 23 September 2022.

Dikutip Harian Neraca, perseroan menjelaskan bahwa pinjaman dengan jangka waktu 60 bulan ini akan digunakan membiayai kebutuhan umum.

Serta transaksi dilakukan untuk membiayai modal kerja dan mendukung kegiatan usaha, di mana Transaksi tidak memberikan dampak negatif bagi kondisi keuangan perseroan.

 BACA JUGA:Banyak Direksi dan Komisaris Link Net (LINK) Mundur, Wah Kenapa?

Dalam laporan keuangan semester I 2022 pinjaman bank jangka pendek bertambah 296% dibanding akhir tahun 2021 menjadi Rp1,969 triliun.

Dalam keterangan laporan keuangan semester 1 2022 merinci pinjaman bank jangka pendek kepada Citibank cabang Indonesia sebesar Rp1 triliun.

Lalu kepada PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). Berikutnya kepada Deutsche Bank AG sebesar Rp475 miliar. Adapun utang bank jangka panjang sebesar Rp1 triliun kepada BNGA.

Semester pertama 2022, PT Link Net Tbk mencatatkan laba bersih Rp141,26 miliar atau anjlok 70,06% dibanding periode sama tahun 2021 yang mencapai Rp471,77 miliar. Akibatnya. Laba per saham dasar melorot ke level Rp51, sedangkan akhir Juni 2021 berada di level Rp171.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Adapun untuk pendapatan hanya menyusut 1,2% menjadi Rp2,109 triliun karena pendapatan pita lebar internet dan jaringan terkikis 0,69% menjadi Rp1,005 triliun.

Tercatat juga pendapatan televisi kabel turun 3,3% menjadi Rp996,72 miliar. Menariknya, beban pokok pendapatan dapat ditekan 12,9% menjadi Rp384,97 miliar. Sehingga lana kotor tumbuh 0,64% menjadi Rp1,724 triliun.

Sementara beban penjualan bengkak 32,9% menjadi Rp210,12 miliar. Serupa, beban umum dan administrasi naik 40% menjadi Rp462,21 miliar. Terlebih, beban penyusutan meningkat 32,3% menjadi Rp691,82 miliar. Kian tertekan, beban keuangan naik 60,9% menjadi Rp140,84 miliar. Akibatnya laba sebelum pajak penghasilan anjlok 67,5% sisa Rp199,13 miliar.

Untuk pinjaman bank jangka pendek bertambah 296% dibanding akhir tahun 2021 menjadi Rp1,969 triliun. Demikian juga dengan utang usaha kepada pihak jangka pendek naik 180% menjadi Rp1,347 triliun. Sehingga kewajiban bengkak 18,3% menjadi Rp5,324 triliun. Sedangkan ekuitas meningkat 2,8% menjadi Rp5,397 triliun. Alhasil aset tumbuh 10% menjadi Rp10,721 triliun.

Diketahui, Link Net menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp3,07 triliun. Rencanananya dana belanja modal ini sebagian besar akan dilakukan untuk ekspansi ke kota baru, seperti ekspansi ke Sukabumi dan Purwokerto.

Selain untuk ekspansi, belanja modal perseroan juga akan dialokasikan untuk penyediaan modem dan wifi routers di rumah pelanggan. Sementara itu, sebagian besar dana capex yang lain dialokasikan untuk migrasi jaringan LINK dari tiang-tiang PLN, dan untuk melakukan pembaruan (upgrade) serta maintenance.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini