Share

Dolar AS Perkasa, BUMN Bisa Pakai Mata Uang Asing Lain Buat Ngutang

Suparjo Ramalan, iNews · Kamis 29 September 2022 10:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 320 2677188 dolar-as-perkasa-bumn-bisa-pakai-mata-uang-asing-lain-buat-ngutang-eKQDSYItmt.jpg Indeks Dolar AS menguat (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA – Indeks dolar AS makin perkasa hingga menyentuh level tertinggi selama 20 tahun. Dengan kuatnya dolar, Kementerian BUMN tidak menutup kemungkinan akan menggunakan mata uang asing lain untuk mencari sumber pendanaan atau utang.

Pada perdagangan Rabu siang kemarin dolar AS menguat hingga di angka Rp15.200. Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo atau Tiko mengaku telah mempertimbangkan BUMN akan menggunakan mata uang asing, selain dolar.

"Ini memang jadi pemikiran buat kita untuk mencari pendanaan dari currency lain karena yen maupun euro dan GBP memang melemah," ungkap Tiko dalam konferensi pers di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, dikutip Kamis (29/9/2022).

Dia juga mengakui bahwa naiknya dolar AS dan agresifnya kebijakan The Fed menjadi pekerjaan rumah (PR) buat pemerintah, khusus Kementerian BUMN.

"Tentunya ini jadi PR kita bersama dan di asset management bank kita sedang me-review untuk melakukan juga beberapa konversi untuk mengurangi exposure terhadap USD-IDR," kata dia.

Untuk itu, pilihan menggunakan mata uang asing di luar dolar bisa saja dilakukan BUMN. Terutama dalam menerbitkan obligasi dengan denominasi non dolar seperti Yen, Euro, dan poundsterling. Menurutnya, Rupiah masih menguat terhadap ketiga mata uang tersebut.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Kalau nggak di dolar ada opsi di Yen, samurai bond, terus di Euro atau bahkan beberapa mungkin di China. Dulu sempat buka ada dimsum bond dan sebagainya dan ini sedang kita kaji," tuturnya.

Kementerian BUMN tidak mengelak kenaikan Dolar AS terhadap nilai tukar Rupiah akan berdampak pada tingkat produksi perusahaan pelat merah. Adapun BUMN yang dimaksud adalah PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero).

Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury mencatat pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS memang berpotensi berdampak pada kinerja PLN dan Pertamina.

"Terkait mengenai hedging, memang dua BUMN yang memiliki posisi yang kalau terjadi depresiasi itu menyebabkan adanya potensi effect losses itu adalah Pertamina dan juga PLN, sebagai dua BUMN yang memang memiliki posisi kewajiban dalam US dolar memang cukup tinggi," ucap Pahala.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini