Share

Susun RAPBN 2023, Sri Mulyani Rasakan Tantangan Gejolak Ekonomi Dunia

Michelle Natalia, Sindonews · Kamis 29 September 2022 18:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 320 2677663 susun-rapbn-2023-sri-mulyani-rasakan-tantangan-gejolak-ekonomi-dunia-Nw77kr3cld.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa tantangan gejolak ekonomi dunia sungguh sangat nyata dan dia pribadi dapat lihat dan rasakan pada proses pembahasan RAPBN 2023 ini.

Sejak Pemerintah dan DPR membahas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal pada pada bulan April hingga pengambilan keputusan hari ini, dia menyaksikan seluruh indikator ekonomi yang menjadi dasar penyusunan RAPBN 2023 bergerak sangat dinamis dan bahkan cenderung bergejolak dengan volatilitas tinggi.

"Selama satu bulan terakhir, beberapa indikator bergerak sangat cepat. Harga minyak dunia dan CPO mengalami penurunan, sementara mata uang beberapa negara mengalami volatilitas yang luar biasa. Selama tahun 2022, nilai tukar mata uang berbagai negara terhadap Dolar Amerika mengalami koreksi yang sangat tajam. Yen Jepang telah mengalami depresiasi 25,8%, Renminbi China mengalami depresiasi 12,9%, dan Lira Turki mengalami depresiasi 38,6%," ujar Sri dalam Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Kamis (29/9/2022).

Demikian juga yang terjadi dengan negara-negara tetangga Indonesia, Ringgit Malaysia terdepresiasi 10,7%, Baht Thailand terdepresiasi 14,1%, dan Peso Filipina terdepresiasi 15,7%. Dalam periode yang sama nilai tukar rupiah juga mengalami depresiasi sebesar 6,1%.

"Kita juga menyaksikan bahwa inflasi di negara-negara maju yang sebelumnya selalu single digit atau mendekati 0% dalam 40 tahun terakhir, sekarang melonjak mencapai double digit. Bahkan inflasi di Turki mencapai 80,2% dan di Argentina mencapai 78,5%. Inflasi yang sangat tinggi ini telah mendorong respons kebijakan moneter terutama di Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya, dengan sangat agresif menaikkan suku bunga yang menyebabkan gejolak di sektor keuangan dan arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara emerging hingga mencapai USD9,9 miliar atau setara Rp148,1 triliun ytd sampai dengan 22 September 2022," papar Sri.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Dia mengatakan, hal ini menyebabkan tekanan pada nilai tukar di berbagai negara emerging, termasuk Indonesia. Terlebih lagi, Bank Sentral AS The Fed baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin, artinya sejak awal kenaikan suku bunga oleh Federal Reservesudah mencapai 300 basis poin.

"Kenaikan suku bunga di berbagai negara, terutama negara maju jelas akan meningkatkan cost of funddan mengetatkan likuiditas yang harus kita waspadai secara sangat hati-hati," ucap Sri.

Kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi berpotensi akan mempengaruhi kinerja ekonomi global pada tahun 2023, yaitu potensi mengalami koreksi ke bawah. Inflasi yang meningkat dan pertumbuhan ekonomi yang melambat akan mengakibatkan stagflasi.

"Negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang merupakan penggerak perekonomian dunia berpotensi mengalami resesi pada tahun 2023," pungkas Sri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini