Share

Ada 3 Emiten Properti Berstatus Pailit, Bagaimana Nasib Investor?

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Kamis 06 Oktober 2022 12:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 06 278 2681777 ada-3-emiten-properti-berstatus-pailit-bagaimana-nasib-investor-ltGIDQinEe.jpg Ilustrasi saham. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Ada sejumlah emiten sektor properti yang berstatus pailit menjadi perbincangan para pelaku pasar modal.

Sebab, sampai saat ini masih terdapat investasi pemodal yang nyangkut menunggu kepastian perusahaan.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat tiga emiten sektor properti yang tak mampu membayar utangnya kepada kreditur yakni PT Hanson International Tbk (MYRX), Saham Seri B Hanson International (MYRXP), PT Forza Land Indonesia Tbk (FORZ), dan PT Cowell Development Tbk (COWL).

 BACA JUGA:Aksi Emiten Hari Ini, dari RUPS BMAS hingga Dividen UNTR

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan investor perlu terus membaca keterbukaan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.

Langkah ini diharuskan demi tidak terjebak risiko legal issue, termasuk kepailitan perusahaan.

"Untuk itu investor wajib mengetahui risiko-risiko industri dari perusahaan, memperhatikan setiap pengumuman dari perusahaan termasuk notasi dari Bursa sehingga dapat mengambil keputusan investasi dengan segera," kata Nyoman kepada wartawan pasar modal, dikutip Kamis (6/10/2022).

Sejalan dengan hal itu, Nyoman memastikan bursa selaku regulator terus meminta kepada perusahaan tercatat untuk secara rutin menyampaikan perkembangan perusahaan di kanal keterbukaan informasi.

Selain menjadi syarat bagi perusahaan publik, penyampaian tersebut juga diharapkan mampu meyakinkan investor ihwal dampak dan hal yang dilakukan perusahaan untuk menyelesaikan masalahnya yang tengah dihadapinya, termasuk putusan kepailitan oleh pengadilan.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Bursa juga memberikan notasi khusus dan suspensi dalam hal sudah mengarah pada pailit. Hal ini dilakukan untuk melindungi kepentingan investor," terang Nyoman.

Apabila kepailitan tak kunjung menemui langkah perbaikan, ditambah serangkaian masalah lain, maka akan membuat bursa melakukan delisting atau penghapusan perusahaan tercatat secara terpaksa.

Dalam hal ini Bursa akan mengumumkan informasi kepada jajaran Direksi, Dewan Komisaris dan pemegang saham pengendali yang tercatat pada saat pailit terjadi dan memasukkan ke dalam database Bursa.

"Di samping itu, Bursa juga melarang pihak-pihak tersebut untuk menjadi Direksi, Dewan Komisaris atau pengendali perusahaan yang akan tercatat di Bursa (pihak-pihak dalam catatan khusus)," pungkas Nyoman.

Sesuai dengan POJK No. 3/POJK.04/2021 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal Perusahaan, perusahaan yang telah dilakukan delisting oleh Bursa, diwajibkan untuk melakukan pembelian kembali dan go private.

Hal ini juga merupakan upaya untuk melindungi hak-hak investor di pasar modal.

Selain tiga emiten sektor properti tersebut, terdapat emiten sektor lain yang juga dalam keadaan pailit, seperti misalnya PT Grand Kartech Tbk (KRAH), PT Golden Plantation Tbk (GOLL), dan PT Nipress Tbk (NIPS).

Bursa secara khusus memberikan notasi 'B' yang menandakan status pailit perusahaan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini