Share

Ancaman Resesi Global, RI Bisa Bertahan?

Anggie Ariesta, Jurnalis · Kamis 06 Oktober 2022 10:47 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 06 320 2681679 ancaman-resesi-global-ri-bisa-bertahan-xAnAWxD5sU.JPG Ilustrasi ekonomi . (Foto: Freepik)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat menyebut dunia akan masuk jurang resesi.

Dia juga mengatakan ketahanan ekonomi Indonesia dalam tren resesi global masih bisa bertahan.

Head of Business Development PT FAC Sekuritas Indonesia, Kenji Putera Tjahaja mengatakan resesi itu dialami utamanya berdasarkan PHK, kenaikan harga bahan pokok, kenaikan harga pasokan energi dan kenaikan angka kemiskinan.

"Di sini yang saya mau highlight itu kenaikan harga pasokan energinya, dimana justru seperti kita tahu domestik kita kuat sekali untuk posisi bahan energi dan komoditas, saya rasa kita lagi bagus banget gitu," kata Kenji dalam segmen Market Buzz Power Breakfast, Kamis (6/10/2022).

 BACA JUGA:Indonesia Ajak Parlemen P20 Antisipasi Resesi Ekonomi

Menurut Kenji, Indonesia sendiri memang melihat peluang resesi global bisa menahan, dalam arti kinerja pertumbuhan ekonomi domestik masih bagus sekali.

"Pertumbuhan ekonomi kita secara year on year tumbuh kurang lebih 5,44%, neraca perdagangan itu juga surplus 28 bulan berturut-turut, inflasi memang ada kenaikan dari target awal tapi terkendali," jelas Kenji.

Sehingga, walaupun dalam inflasi ada kenaikan masih bisa terkendali jika dibandingkan dengan negara-negara regional Asia apalagi Eropa.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga Kenji rasa masih sangat wajar dan IHSG juga dilihat performanya secara regional khususnya Asia Pacific kita performance-nya bagus sekali.

Adapun sektor komoditas yang menyelamatkan Indonesia dari jurang resesi global saat ini. Menurut Kenji, poin tersebut menjadi katalis positif bagi pertumbuhan kinerja ekonomi bagi Indonesia sendiri.

Selain itu, kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara, lanjut Kenji, menjadi salah satu penyebab resesi global yang kemungkinan terjadi di 2023.

Untuk pasar modal memang agak sensitif terhadap isu seperti ini.

"Tapi kita harus pertahankan, jadi utamanya yang ditakutkan negara atau pasar modal negara berkembang itu namanya capital outflow, itu jelas, jadi apabila ada kenaikan suku bunga bank sentral takutnya asing malah lebih investasi di negara maju dibandingkan negara berkembang, ancaman ril nya disitu," pungkas Kenji.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini