Share

Bos Besar Freeport Sebut Jokowi Senang 98% Pekerja di Tambang Orang Indonesia

Rizky Fauzan, MNC Portal · Kamis 06 Oktober 2022 12:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 06 320 2681745 bos-besar-freeport-sebut-jokowi-senang-98-pekerja-di-tambang-orang-indonesia-3ERX67qdrH.JPG Presiden Jokowi saat ke Freeport Indonesia. (Instagram/Jokowi)

JAKARTA - PT Freeport Indonesia menyebut personil pekerja yang bekerja di tambang Grasberg, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua mayoritas adalah warga Tanah Air.

Chairman of The Board & CEO Freeport-McMoRan Richard C. Adkerson pun membeberkan fakta yang membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasa senang.

Richard menjelaskan bahwa saat pertama kali datang ke tambang emas di Papua, pekerja yang ada di Freeport kebanyakan tidak ada orang Indonesia.

Dia pun harus pergi ke Filipina untuk mencari pekerja tambang bawah tanah.

 BACA JUGA:Freeport Janji Berikan Rp1,5 Triliun/Tahun untuk Warga Papua

"Operasi (tambang) dulu dijalankan oleh orang asing, hanya ada sedikit orang Papua yang bekerja di Freeport," kata Richard dalam orasi ilmiah di UGM dikutip Kamis, (6/10/2022).

Meski begitu, saat ini para pekerja di Freeport pun sudah didominasi oleh orang Indonesia.

Hal ini juga terlihat dari grafik pekerja Indonesia dan Papua yang meningkat dari tahun ke tahun.

Richard mengungkapkan bahwa seperti di tahun 2005, tambang Freeport di Papua 19.805 pekerja dengan 14.568 di antaranya adalah orang Indonesia dan 4.734 di antaranya adalah orang Papua.

Angka ini meningkat di tahun 2021 dengan 21.496 orang Indonesia dan 7056 orang asli Papua.

Dari data ini, Richard mengatakan Presiden Jokowi sangat senang ketika mendengarkan info ini saat pertama kali mendatangi smelter Freeport di Papua beberapa waktu yang lalu.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Presiden Joko Widodo senang melihat ini, karena 98% pekerja kami adalah orang Indonesia. Dan lebih dari 40% adalah orang Papua. Bahkan kita punya 2 manajer Papua yang hadir saat ini. Jadi saya ingin kalian semua paham kalau PTFI ini adalah perusahaan milik Indonesia," tuturnya.

Petinggi dari Freeport memang didominasi oleh orang Indonesia dan Papua.

Seperti posisi Presiden Direktur yang dipercayakan oleh Tony Wenas. Freeport juga mempercayakan 1 posisi direktur, 9 Senior dan Vice President, dan 57 manajer serta posisi senior dari Papua.

"Freeport juga berada di bawah hukum dari Indonesia, dan kita melakukan joint venture dengan perusahaan dari Amerika Serikat untuk memberikan teknologi," ungkapnya.

Sementara itu, Richard juga menuturkan tambang tembaga milik PTFI dulunya sempat diragukan.

Bahkan saat pertama kali ditemukan, disebutkan jika tambang tembaga di Papua ini tidak bisa dikembangkan.

"Saat (tambangan tembaga) pertama kali ditemukan tahun 1936 oleh geologis asal Belanda yang melakukan ekspedisi ke Puncak Jaya, mereka bilang apa? Mereka bilang tambang ini harusnya ada di bulan karena nggak ada yang bisa mengembangkan," jelasnya.

Walau begitu, kini tambang milik Freeport menjadi salah satu tambang terbesar di dunia.

Bahkan cadangan yang dimiliki oleh tambang ini disebut-sebut bisa bertahan hingga tahun 2052.

Sebagaimana diketahui, Presiden Jokowi mengenang momentum pengambilalihan Freeport pada 2019 lalu.

Saat itu, Jokowi memberikan syarat agar Freeport dapat memperpanjang masa operasinya di Tanah Air.

Syarat tersebut adalah membangun smelter atau pabrik pengolahan.

Sebab, Jokowi mengaku sulit meminta Freeport untuk membangun smelter yang sudah diminta sejak 2014 silam.

"Dulu sulit menyuruh Freeport membuat smelter. Mundur-mundur saja. Ini (operasi) diperpanjang baru buat smelter (kata Freeport). Ndak-ndak kamu buat smelter, kita perpanjang," jelasnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini