Share

Penuhi Kebutuhan Air Minum, PUPR Sebut Anggaran Kurang Rp86,8 Triliun

Iqbal Dwi Purnama, MNC Portal · Jum'at 04 November 2022 09:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 04 470 2700638 penuhi-kebutuhan-air-minum-pupr-sebut-anggaran-kurang-rp86-8-triliun-YKgs1qdLNG.JPG Kebutuhan air minum. (Foto: PUPR)

JAKARTA - Kementerian Pekejaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatakan gap pembiayaan untuk menyediakan air minum perpipaan masih cukup besar.

Direktur Jendral Pembiayaan Infrastruktur, Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna menyebut kalau berdasarkan RPJMN 2020–2024, kebutuhan dana untuk mencapai program 10 Juta SR (Sambungan air minum ke Rumah) sebesar Rp123,4 triliun.

Sementara diproyeksikan porsi APBN tahun 2022-2024 hanya mampu memenuhi 17% atau sekitar Rp21 triliun, APBD sebesar 13% atau sekitar Rp15,6 triliun.

Sedangkan sisanya 70% atau sekitar Rp86,8 triliun bersumber dari lainnya, salah satunya investasi melalui skema Kerja sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) sebagai salah satu pembiayaan alternatif.

 BACA JUGA:PUPR Buka Jalan Trans Sulawesi Majene-Mamuju Pasca Longsor

"Sebagai langkah untuk menutupi gap pendanaan (funding gap) non-APBN sebesar 70% ini pemerintah membuka peluang alternatif pendanaan dengan melibatkan badan usaha," ujar Herry dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (3/11/2022).

Menurutnya, inovasi pembiayaan melalui KPBU menjadi sarana terbaik untuk memenuhi target pembangunan infrastruktur tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah (APBN/APBD).

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Khusus untuk penyediaan air minum perpipaan diharapkan tahun 2024 mencapai 30% dan hari ini masih 20,6%, sementara negara-negara lain rata-rata sudah 70%, sehingga penanganannya harus dari hulu hingga hilir,” jelasnya.

Pemerintah menawarkan kerja sama dengan Swasta melalui skema Source to Tap.

Nantinya Soruce to Tap akan mengintegrasikan mulai dari perencanaan sistem dari hulu hingga hilir, sehingga timelinenya lebih terukur antara pembangunan di hulu dengan penyerapan di hilir.

Selain sistemnya terintegrasi antara hulu dan hilir, Herry menambahkan prinsip Source to Tap pada pembiayaan infrastruktur air minum akan lebih memperkecil risiko interface, desain pembangunan lebih optimal dan efisien serta pembiayaan menjadi satu untuk proyek unsolicited dan mengoptimalkan struktur proyek untuk blended finance pada proyek solicited.

"Sehingga lebih memberikan kepastian investasi bagi badan usaha karena mulai perencanaan hingga implementasinya akan terintegrasi. Tinggal nanti bagaimana ada penyesuaian-penyesuaian agar layanan masyarakat tetap maksimal, tetapi dari sisi investasi juga menjanjikan,” pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini