Share

Ini Skema Konversi PLTD ke PLTS, Dirut PLN Singgung Harga Baterai

Suparjo Ramalan, MNC Portal · Senin 28 November 2022 20:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 28 320 2716579 ini-skema-konversi-pltd-ke-plts-dirut-pln-singgung-harga-baterai-jomtXtmRY6.jpg Energi Baru Terbarukan (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT PLN (Persero) menyatakan bahwa harga baterai yang digunakan dalam Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mengaliri listrik masih mahal. Di mana, harga rata-rata baterai di kisaran USD12-15 sen per kilowatt hour (kWh).

Selain harga, tantangan lain yang dihadapi PLN berupa rating baterai. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menyebut dalam kurung waktu 5 tahun kemampuan baterai akan menurun. Sehingga harus ditambahkan atau diganti.

"Nah, baterai juga ada tantangan yaitu ada di rating, di setiap 5 tahun, seperti HP kita saja, 3 tahun kemampuan baterainya menurun. Untuk itu setiap 3-5 tahun harus ada penambahan baterai agar kapasitasnya tetap sama," ungkap Darmawan, dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI, Senin (28/11/2022).

PLN memang tengah menggenjot konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit EBT, berupa PLTS. Program konversi PLTD ke EBT ini dibagi menjadi dua tahap.

Pada tahap pertama, PLN akan mengkonversi sampai dengan 250 Megawatt (MW) PLTD yang tersebar di beberapa titik di Indonesia. Nantinya, PLTD ini akan diganti menggunakan PLTS base load. Artinya ada tambahan baterai agar pembangkit bisa mengaliri listrik atau menyala hingga 24 jam.

PLTS tidak bisa dijadikan penopang beban dasar atau base load karena produksi listriknya tergantung pada cuaca. Karena itu, diperlukan Energy Storage System (ESS) untuk menyimpan listrik yang dihasilkan. ESS ini berupa baterai yang berfungsi menyimpan energi.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

"Begitu menggunakan baterai, memang saat ini baterai yang ada ini biaya masih cukup mahal, yakni per kWh sekitar USD 12-15 sen per Kwh. Karena kita berbicara pembangkit yang beroperasi 24 jam, tentu saja 4 jam saja yang bisa langsung (PLTS). Sisanya 20 jam menggunakan baterai," ucap dia.

Saat ini PLN tengah menginisiasi lelang untuk konversi PLTD ke PLTS yang rencananya dilaksanakan 2-3 bulan ke depannya. Dalam proses ini PLN peserta lelang ikut menyediakan baterai untuk wilayah remote.

Meski ada partisipasi peserta atau pelaku usaha, harga baterai masih cukup mahal.

"Kami sedang melakukan lelang, prediksi harganya tidak murah. Begitu PLTS beroperasi 24 jam, nanri hybrid dengan diesel itu prediksinya masih di atas USD 20 sen, tetapi dibanding USD 32-34 sen sudah lebih murah karena beroperasi 24 jam," kata dia.

"Dalam 2-3 bulan mendatang lelang akan berjalan dan harapan kami juga kompetisi yang sehat, lelang terbuka, dan transparan, sehingga bisa mendorong adanya inovasi. Ini upaya kami agar ada pembangunan listrik di daerah terpencil, tetapi juga tidak berbasis pada energi yang impor, juga bergeser pada EBT," tutur dia.

Untuk tahap dua, PLN akan mengkonversi PLTD sisanya sekitar 338 MW dengan pembangkit EBT lainnya, sesuai dengan sumber daya alam (SDA) yang menjadi unggulan di daerah dengan keekonomian yang baik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini