Share

Sri Mulyani: Kalau Ekonomi Dunia Redup, Permintaan Ekspor Akan Turun

Michelle Natalia, MNC Portal · Jum'at 02 Desember 2022 12:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 02 320 2719202 sri-mulyani-kalau-ekonomi-dunia-redup-permintaan-ekspor-akan-turun-qVpXxUd2Ho.jpg Sri Mulyani ingatkan risiko ekspor turun tahun depan (Foto: Okezone)

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai turunnya ekspor akibat redupnya ekonomi dunia tahun depan. Dia mengatakan, jika ekonomi dunia redup maka permintaan ekspor akan menurun.

"Kalau dunia temaram (redup), seperti tadi yang disebutkan, pasti permintaan ekspornya menurun, komoditas juga tidak akan setinggi itu," ungkap Sri, Jumat (2/12/2022).

Menurutnya, isu ekspor menjadi faktor ketiga di dalam outlook pertumbuhan Indonesia tahun depan selain daya beli dan investasi. Bagaimana kebijakan fiskal merespons terhadap di satu sisi, ada harapan, dan di sisi lain ada risiko yang harus dikelola. Defisit APBN 2023 sendiri telah ditetapkan di 2,84%.

"Ini sesuai dengan janji kita bahwa ekspansi fiskal yang extraordinary karena pandemi akan berakhir di tahun ini, dan kita kembali kepada disiplin fiskal. Teman-teman mungkin nanya, 'Bu, kenapa sih perlu disiplin?'. Pada saat market sekarang sangat turbulent, exchange rate tinggi, interest rate tinggi, kalau Anda tidak punya anchor atau jangkar disiplin fiskal, ya yang terjadi adalah confidence akan runtuh," tambah Sri.

Hal ini bisa saja terjadi, dengan contoh nyata apa yang terjadi di Inggris.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

"Salah posisi fiskal, bahkan ekonomi sekuat Inggris juga gelempang. Jadi ini adalah salah satu jangkar untuk menjaga confidence dan stabilitas. Pada saat risiko meningkat, harga dari cost of fund meningkat, fiskal kita harus dijaga tetap sehat namun tetap suportif. 2,84% itu lebih dari Rp530 triliun defisit. Itu cukup untuk memberikan stimulasi. Total spending kita di atas Rp3.000 triliun, atau sebesar Rp3.018 triliun, itu lebih tinggi dari tahun ini dan selama periode COVID-19," tegas Sri.

Dia menekankan bahwa sisi fiskal akan tetap suportif, tetapi tetap prudent karena menjadi jangkar dari stabilitas. "Inilah yang kemudian akan menjaga momentum pemulihan ekonomi kita tahun 2023," pungkas Sri.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini