Share

Investor Pasar Saham Waspadai Resesi dan Turbulensi di 2023

Anggie Ariesta, MNC Portal · Minggu 04 Desember 2022 08:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 04 278 2720153 investor-pasar-saham-waspadai-resesi-dan-turbulensi-di-2023-0H8f8TmBxl.jpg Wall Street Ditutup Melemah. (foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Bursa saham AS, Wall Street sepekan melemah, di mana investor hanya mengincar keuntungan mulai dari sektor kesehatan AS hingga saham Inggris. Selain itu, emas juga menjadi tempat berlindung potensial selama resesi yang diperkirakan terjadi di 2023.

Perkiraan tahun depan akan suram datang sektor bank-bank di Wall Street. JPMorgan, Citi dan BlackRock percaya bahwa resesi kemungkinan besar terjadi tahun depan.

Resesi pun menjadi berita buruk bagi pasar saham, meskipun beberapa investor percaya penurunan tajam ekuitas 2022 menunjukkan tingkat perlambatan telah diperhitungkan.

Indeks S&P 500 tercatat menurun 25,2% dari level tertinggi sepanjang tahun ini atau lebih baik dibandingkan penurunan 28% dalam resesi sejak Perang Dunia Kedua, menurut data dari CFRA Research. Indeks turun 14,6% year-to-date.

Baca Juga: Wall Street Naik Tajam Usai Pidato Ketua The Fed soal Suku Bunga

Namun demikian, banyak orang di Wall Street meningkatkan alokasi ke area pasar yang memiliki reputasi unggul selama masa ekonomi yang tidak menentu.

"Ketika investor melihat resesi datang, mereka menginginkan perusahaan yang dapat menghasilkan pendapatan terlepas dari siklus bisnisnya," kata Kepala Investasi Cresset Capital, Jack Ablin, dilansir dari Reuters, Minggu (4/12/2022).

Dalam prospek 2023, ahli strategi di BlackRock Investment Institute merekomendasikan saham di sektor kesehatan, area yang dianggap kurang sensitif terhadap fluktuasi ekonomi.

Sektor Perawatan Kesehatan dalam S&P 500 turun sekitar 1,7% tahun ini, dengan mudah mengalahkan kinerja indeks yang lebih luas.

Baca Juga: Wall Street Bervariasi, Investor Nantikan Pidato Jerome Powell

BlackRock mengatakan perusahaan juga lebih memilih saham energi dan keuangan, meskipun underweight pasar maju secara keseluruhan.

"Resesi diramalkan; bank sentral berada di jalur untuk memperketat kebijakan karena mereka berusaha menjinakkan inflasi," tulis Ahli Strategi Perusahaan.

"Valuasi ekuitas belum mencerminkan kerusakan di depan, dalam pandangan kami," sambungnnya.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Analis JPMorgan juga memperkirakan resesi ringan dan memperkirakan S&P 500 akan menguji level terendah 2022 pada kuartal pertama tahun depan. Valuasi di atas rata-rata dan sikap hawkish Fed membuat saham AS tidak menarik dibandingkan dengan pasar negara maju lainnya, kata bank tersebut, menyebut Inggris sebagai pilihan utamanya.

Sedangkan BoFA Global Research memperkirakan ekuitas AS akan berakhir datar pada tahun 2023 tetapi melihat harga emas naik hingga 20%, dibantu oleh jatuhnya dolar. Bahan mentah seperti emas dihargai dalam dolar dan menjadi lebih menarik bagi pembeli asing ketika greenback turun.

Sementara itu, investor pada pekan depan menunggu data ekonomi di sektor jasa AS, yang tumbuh pada laju paling lambat dalam hampir 2,5 tahun di bulan Oktober.

Tidak semua orang percaya bahwa resesi adalah sesuatu yang pasti. Tanda-tanda inflasi surut telah memicu harapan bahwa Fed dapat mengetatkan kebijakan moneter kurang dari yang diharapkan, mendukung rebound di S&P 500 yang telah mengangkat indeks dari level terendah Oktober.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini