Share

OJK: Pendapatan Asuransi Rp255 Triliun, Naik 1,8% hingga Oktober 2022

Anggie Ariesta, MNC Portal · Selasa 06 Desember 2022 15:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 06 320 2721684 ojk-pendapatan-asuransi-rp255-triliun-naik-1-8-hingga-oktober-2022-jlN8Aic8oz.jpg Pendapatan asuransi meningkat (Foto: Okezone)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat akumulasi pendapatan sektor asuransi selama periode Januari sampai dengan Oktober 2022 mencapai Rp255,2 triliun. Pendapatan sektor asuransi tumbuh 1,81% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Ogi Prastomiyono menyampaikan akumulasi premi asuransi umum juga tumbuh sebesar 16,93% yoy mencapai Rp97,78 triliun per Oktober 2022.

“Namun demikian, akumulasi premi asuransi jiwa terkontraksi sebesar -5,76% yoy dibanding periode sebelumnya dengan nilai sebesar Rp157,42 triliun per Oktober 2022,” kata Ogi dalam Konferensi Pers RDKB November 2022, Selasa (6/12/2022).

Sementara itu, permodalan di sektor IKNB terjaga dengan industri asuransi jiwa dan asuransi umum mencatatkan risk-based capital (RBC) sebesar 464,24% dan 313,71%.

“Meskipun RBC dalam tren yang menurun dan RBC beberapa perusahaan asuransi di-monitor ketat, namun secara agregat RBC industri asuransi masih berada di atas threshold sebesar 120%,” ujarnya.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Selanjutnya, dari sektor dana pensiun, Ogi mencatat sektor ini mengalami pertumbuhan aset sebesar 4,2% yoy dengan nilai aset mencapai Rp338,71 triliun. Sementara itu, nilai outstanding piutang pembiayaan tumbuh 12,17% secara tahunan pada Oktober 2022 menjadi sebesar Rp402,6 triliun.

Hal ini didukung pembiayaan modal kerja dan investasi yang masing-masing tumbuh sebesar 31,6% yoy dan 23,7% yoy. Kemudian, gearing ratio (GR) perusahaan pembiayaan yang tercatat sebesar 2,01 kali atau jauh di bawah batas maksimum 10 kali.

Ogi menyampaikan bahwa profil risiko perusahaan pembiayaan masih terjaga dengan rasio non-performing financing (NPF) yang tercatat turun menjadi sebesar 2,54%, di mana per September 2022 sebesar 2,58%. Adapun, OJK mencermati tren kenaikan resiko itu dan penurunan kinerja di beberapa financial technology peer-to-peer (fintech p2p) lending.

Secara rinci, fintech p2p lending pada Oktober 2022 masih mencatatkan pertumbuhan dengan outstanding pembiayaan tumbuh sebesar 76,8% yoy, meningkat Rp0,6 triliun menjadi Rp49,34 triliun.

“Tingkat risiko kredit secara agregat atau TWP90 tercatat menurun menjadi 2,9%, di mana per September 2022 berada di level 3,07%,” pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini