Share

Produsen Tahu Tempe Mogok Rugi Sendiri, Mendag: Tidak Dapat Duit

Iqbal Dwi Purnama, MNC Portal · Kamis 08 Desember 2022 14:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 08 320 2723133 produsen-tahu-tempe-mogok-rugi-sendiri-mendag-tidak-dapat-duit-JCMESvJ18O.jpg Pedagang tahu tempe rugi jika mogok (Foto: Okezone)

JAKARTA – Produsen tahu tempa diimbau tidak melakukan mogok jualan di tengah kenaikan harga kedelai. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengingatkan jangan sampai produsen tahu tempe merugi karena mogok jualan.

Sebab produsen tempe tahu bisa melakukan penyesuaian harga dari adanya kenaikan harga kedelai. Menurut Zuhlas mogok produksi justru bisa membuat para perajin tempe tahu mengalami kerugian karena tidak ada penjualan.

"Kalau mogok kan rugi sendiri, jangan dong. Nanti tidak laku, tidak dapat duit tidak dapet cuan," ujar Mendag usai meluncur Hari Belanja Online Nasional di Kantornya, Kamis (8/12/2022).

Mendag menjelaskan saat ini pemerintah tengah mengupayakan impor kedelai untuk melakukan stabilisasi harga kedelai di pasar. Karena stok kedelai dalam negeri saat ini sangat tipis.

Menurutnya importasi kedelai saat ini tengah berproses, memang akan memakan waktu paling tidak satu bulan baru kedelai impor bisa membanjir pasar dan harga bisa kembali normal.

"Mungkin akan sampai ke sini (kedelai impor) tuh sekitar bulan Desember akhir, di jual nanti kira-kira antara harga Rp11 ribuan," sambung Mendag.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Adapun saat ini Zulhas mengakui bahwa harga kedelai di pasar saat ini tembus Rp13-14 ribu per kilonya. Targetnya dengan adanya importasi kedelai harganya bisa kembali normal.

"Oleh karena itu pemerintah sudah memutuskan dan menugaskan Bulog untuk impor kedelai. Jadi di perkirakan Desember akhir paling lama Januari sudah normal harganya," pungkasnya.

Mengutip data dari Badan Pangan Nasional, saat ini memang stok cadangan kedelai milik Bulog memang sangat sedikit. Bahkan stok bulan Desember hanya tersedia sekitar 58 ribu ton. Sedangkan kebutuhan per bulannya tembus 245 ribu ton. Adapun rencana impor yang dilakukan sekitar 446 ribu ton pada periode November - Desember 2022.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini