Share

Ekonomi RI Mampu Bertahan di Badai Global

Antara, Jurnalis · Jum'at 09 Desember 2022 18:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 09 320 2724099 ekonomi-ri-mampu-bertahan-di-badai-global-QRnVlEfObK.jpg Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Kemenko Perekonomian)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) Airlangga Hartanto menyebut ekonomi Indonesia mampu menunjukkan pencapaian impresif di berbagai leading indikator di tengah tantangan kondisi ketidakpastian global saat ini.

“Di tengah kondisi ketidakpastian dan eskalasi dampak the perfect storm global, perekonomian kita justru menunjukkan resiliensi dengan capaian impresif di berbagai leading indicator,” katanya di Jakarta, Jumat (9/10/2022).

Airlangga menuturkan pencapaian ini tidak terlepas dari serangkaian kebijakan extraordinary measures dengan konsep people first policy yang diambil pemerintah dalam program penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

Vaksinasi sebagai game changer dalam penanganan pandemi terus diakselerasi yang hingga saat ini tercatat telah dilakukan sebanyak lebih dari 445 juta dosis.

Hingga 6 Desember 2022, vaksinasi dosis pertama tercatat telah diberikan sebanyak 203.759.538 atau 86,83% dari target sedangkan dosis kedua sebanyak 174.345.886 atau 74,3% dari target.

Kemudian dosis ketiga sebanyak 67.235.823 atau 28,65% dari target dan dosis keempat sebanyak 959.495 atau 4,17% dari target.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Pemerintah juga telah melakukan vaksinasi booster kedua untuk lansia guna memitigasi dampak sub varian baru omicron dan menetapkan PPKM Level 1 untuk semua kabupaten dan kota.

Seiring semakin terkendalinya kasus Covid-19, perekonomian nasional untuk 2022 mampu mencatatkan kinerja solid dengan pertumbuhan 5,72% (yoy) pada kuartal III atau 1,81% (qtq) dan tetap memiliki prospek untuk bertengger pada 5,2% (yoy) pada akhir tahun.

Konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,39% (yoy) dan PMTB tumbuh 4,96% (yoy) sedangkan sektor transportasi dan pergudangan serta akomodasi dan makanan minuman juga kembali pulih.

Prospek positif itu diperkirakan terus berlanjut pada 2023 yaitu ekonomi nasional diperkirakan tumbuh 5,3% (yoy) sejalan dengan skenario sejumlah lembaga internasional yang memprediksi ekonomi Indonesia tahun depan tumbuh 4,7% sampai 5,1%.

Pertumbuhan impresif turut didorong kinerja ekonomi spasial yang menguat di berbagai wilayah mulai dari Pulau Jawa 56,39%, Sumatera 22%, Kalimantan 9,42%, Sulawesi 7,11%, Bali Nusra 2,74% dan Maluku Papua 2,43%.

Kondisi inflasi nasional yang sempat dipicu oleh kenaikan harga BBM pada September dan melaju hingga sebesar 5,71% pada Oktober pun relatif telah terkendali dan turun menjadi 5,42% pada November.

Tingkat inflasi Indonesia terhitung lebih baik dari banyak negara lainnya seperti Argentina 88%, Turki 85,5%, United Kingdom 11,1% dan Uni Eropa 10,7%.

“Artinya dengan tantangan yang sama tapi Indonesia bisa mengelola lebih baik angka-angka tersebut walaupun di Indonesia kenaikan harga energi “dibeli” oleh pemerintah,” ujar Airlangga.

Menurutnya, perkembangan positif inflasi tidak terlepas dari pengaruh sinergi kebijakan yang erat antara pemerintah pusat dan daerah, Bank Indonesia, Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Pemerintah juga telah melakukan upaya stabilisasi harga melalui kebijakan 4K yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.

Meski dibayangi potensi penurunan harga komoditas dan pelemahan permintaan global, capaian positif turut terjadi di neraca perdagangan yang pada Oktober 2022 surplus 5,67 miliar dolar AS atau melanjutkan surplus selama 30 bulan berturut turut sejak Mei 2020.

Surplus neraca perdagangan itu merupakan imbas dari kinerja ekspor tahun ini yang menguat didominasi oleh peningkatan harga komoditas ekspor khususnya pada komoditas ekspor utama Indonesia seperti batu bara, CPO dan besi baja.

Pada November 2022, sektor manufaktur juga menunjukkan kinerja positif dengan capaian PMI Indonesia yang tetap terjaga di level optimis pada posisi 50,3.

Terakhir, akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini sekaligus didukung oleh peningkatan kinerja leading indicator di sektor ketenagakerjaan yang terus membaik dalam kemampuan menyerap tenaga kerja meski didominasi sektor pertanian.

Dibanding Agustus 2021 yang masih tercatat 6,49%, tingkat pengangguran terus mengalami penurunan menjadi 5,86% pada Agustus 2022 diikuti penurunan jumlah penduduk usia bekerja terdampak COVID-19 menjadi sebanyak 17,17 juta orang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini