Share

Usai G20 di Bali, Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi Bisa Tembus 5,3%

Michelle Natalia, MNC Portal · Sabtu 10 Desember 2022 11:13 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 10 320 2724444 usai-g20-di-bali-pertumbuhan-ekonomi-ri-diprediksi-bisa-tembus-5-3-YL1kno2MMh.JPG Ilustrasi ekonomi RI. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap resilien dan dapat mencapai target sebesar 5,2% pada tahun 2022.

Serta diproyeksikan sebesar 5,3% pada tahun 2023.

Pada Oktober 2022, IMF merevisi pertumbuhan ekonomi global hanya sebesar 3,2% dan proyeksi tahun 2023 sebesar 2,7%.

Harga-harga komoditas, khususnya energi dan pangan juga cenderung tinggi dan menjadi sangat volatile yang menyebabkan tekanan inflasi tinggi semakin persisten di berbagai negara. Sementara itu, tingkat inflasi di Indonesia masih terkendali pada leJavel 5,42% (yoy) per November 2022.

 BACA JUGA:Jaga Pertumbuhan Ekonomi RI dengan Akselerasi Digital

“Berbagai kondisi tantangan di global ini, Pemerintah sudah cukup siap untuk mengantisipasi. Kita lihat pertumbuhan ekonomi kita di tahun 2022, sampai kuartal III-2022 masih 5,72%. Di tahun 2023, dari beberapa indikator makro kemudian leading indicator, kami masih yakin bisa di atas 5%. Tapi kita juga masih lebih baik dibanding sebagian besar negara lain,” ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dikutip di Jakarta, Sabtu (10/12/2022).

Lebih lanjut, Susiwijono mengatakan hasil KTT G20 yakni G20 Bali Leaders’ Declaration menjadi solusi kolektif bagi berbagai tantangan global.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Keberhasilan KTT G20 Indonesia juga menunjukkan pulihnya kepercayaan dunia pada multilateralisme dalam menyelesaikan masalah dunia, meningkatkan kepercayaan terhadap kepemimpinan, serta meneguhkan komitmen negara-negara terhadap isu yang paling mendesak bagi masyarakat global.

Indonesia juga menerima banyak manfaat dari penyelenggaraan Presidensi G20, seperti komitmen pendanaan infrastruktur berkualitas dari Amerika Serikat melalui skema Partnership for Global Infrastructure and Investment (PGII) dengan total dana sebesar USD600 miliar dan komitmen pendanaan percepatan dekarbonisasi dari negara G7 untuk pengembangan kendaraan listrik, teknologi, dan penghentian dini pembangkit listrik berbasis fosil di Indonesia melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP) sebesar USD20 miliar.

“Beberapa program komitmen investasi tersebut, terutama transisi energi itu nilainya besar sekali. Dampaknya langsung maupun tidak langsung ke semua sektor, tidak hanya ke sektor teknis yang menjadi komitmen di dalam pembiayaan itu. Multiplier effect-nya ke sektor yang lain,” kata Susiwijono.

Selain itu, di tahun 2023 Indonesia akan Chairmanship ASEAN, di mana di tengah periode krisis global saat ini, ASEAN telah menunjukkan resiliensinya dengan tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini