Share

Low Tuck Kwong Orang Terkaya ke-2 RI Berharta Rp317,7 Triliun, Intip Kisah Perjuangannya

Fayha Afanin Ramadhanti, Okezone · Sabtu 10 Desember 2022 12:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 10 455 2724359 low-tuck-kwong-orang-terkaya-ke-2-ri-berharta-rp317-7-triliun-intip-kisah-perjuangannya-wdQoRAybcy.JPG Low Tuck Kwong. (Foto: Forbes)

JAKARTA - Low Tuck Kwong menduduki posisi kedua orang terkaya Indonesia versi Forbes 2022.

Di mana Kekayaannya kini mencapai USD20,5 miliar atau setara Rp317,7 triliun. (Rp15.600/USD).

Diketahui, harta Low Tuck naik USD4,6 miliar atau setara Rp71,3 triliun menjadi Rp317,7 triliun. Dengan ini menjadikan Low Tuck Kwong sebagai miliarder dengan lonjakan kekayaan paling besar di dunia versi Forbes.

 BACA JUGA:Daftar Lengkap 50 Orang Terkaya di Indonesia 2022 Beserta Hartanya

Adapun dia menghadapi berbagai pasang surut selama 25 tahun dalam bisnis yang menantang.

Pendiri perusahaan batu bara, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) ini bermigrasi ke Singapura dari Guangzhou di China selatan ketika berusia tiga tahun.

Aya Low juga mendirikan sebuah perusahaan konstruksi sipil, Sum Cheong.

Saat Low berusia 14 tahun, dia membantu ayahnya merencanakan proyek pembangunan sepulang sekolah.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Sum Cheong akhirnya menjadi perusahaan yang sukses di Singapura dan Malaysia. Namun daripada mengambil alih, Low ingin keluar ke tempat yang lebih besar. Dia pun melihat peluang di Indonesia.

Pada tahun 1973, Low yang berusia 25 tahun mendapatkan proyek pertamanya, pekerjaan dasar untuk pabrik es krim di Ancol, pesisir Jakarta.

Low adalah kontraktor pertama di Indonesia yang menggunakan palu diesel untuk mempercepat pemancangan.

Saat menjalankan tugasnya, Low mendapat terobosan besar. Beliau mengaku sangat beruntung.

Low juga bekerja sama dengan Jaya Steel anak perusahaan Pembangunan Jaya, perusahaan gabungan antara pemerintah provinsi Jakarta dan pengusaha lokal termasuk mendiang pengusaha properti Ciputra untuk mendirikan Jaya Sumpiles Indonesia.

Kepemilikan awal dibagi 50/50, kemudian Low mengambil kendali penuh.

Low memiliki pekerjaan tetapi menginginkan pendapatan yang stabil daripada pendapatan bisnis konstruksi sipil.

Pada akhir tahun 1987, Low memutuskan untuk memasuki bisnis kontraktor batu bara.

Pada saat itu, industri batu bara Indonesia masih dalam masa pertumbuhan.

Jaya Sumpiles bekerja sama dengan penambang dalam pemindahan, penambangan, dan pengangkutan lapisan penutup (lapisan tanah penutup adalah material yang harus dipindahkan sebelum memulai penambangan).

Selama tahun 1990-an, produksi dalam negeri meroket dari 4,4 juta ton menjadi 80,9 juta ton, dibantu oleh kebijakan yang mendukung penambang yang meningkatkan investasi.

Pada November 1997, setelah satu dekade pengalaman sektoral dan dengan kewarganegaraan Indonesia yang diwajibkan (didapatkan pada tahun 1992), Low membeli konsesi pertamanya, Gunung Bayan Pratama Coal, di Kalimantan Timur.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini