Share

Dikritik AHY soal Utang, Begini Respons Menohok Anak Buah Sri Mulyani

Clara Amelia, Okezone · Selasa 24 Januari 2023 19:49 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 24 320 2752271 dikritik-ahy-soal-utang-begini-respons-menohok-anak-buah-sri-mulyani-FxbZEZz5LO.png AHY Kritik Utang Indonesia. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengkritik soal utang luar negeri Indonesia yang saat ini menumpuk. Menurutnya hal ini berdampak negatif pada kondisi perekonomian masyarakat.

"Cadangan devisa kian menipis lantaran harus menahan nilai tukar Rupiah yang belakangan ini melemah. Kita juga tahu gelombang PHK yang terjadi di sana-sini. Ini semua mengancam masa depan dan nasib para buruh dan pekerja nasional," ujar AHY, Selasa (24/1/2023).

Menyikapi kritikan tersebut, Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo menilai kritikan Partai Demokrat terjebak pada angka dan bukan kondisi faktual yang dinamis.

"Tentu kritik seperti yang disampaikan Mas Agus Yudhoyono ini harus dihormati. Kita berterima kasih. Ini Tanda demokrasi berdenyut karena ruang perbedaan dirawat," kata Yustinus di Twitternya.

Baca Juga: Sri Mulyani Ngaku Bulu Kuduk Berdiri Setiap Bahas Utang

Namun, lanjut Yustinus, dalam kurun 2015-2019 rasio utang Indonesia dapat dijaga pada level maksimal 30%. Di mana saat penerimaan negara melandai dan kebutuhan pembiayaan berbagai belanja publik meningkat untuk mengejar kemajuan, maka utang menjadi salah satu pilihan.

"Lonjakan tinggi jelas karena pandemi covid. Lihat saja lonjakan dari 30% ke 39,38% dalam setahun di 2020, demi menangani dampak kesehatan, sosial dan ekonomi karena Covid-19," ujarnya.

Yusninus mengakui bahwa ini bukan keniscayaan dan justru menunjukkan tanggung jawab pemerintah yang sekarang diapresiasi sebagai salah satu negara yang berhasil mengatasi pandemi dengan baik.

Baca Juga: Pemerintah Siap Lelang 7 Surat Utang Negara Hari Ini, Berikut Daftarnya

Di 2020-2021 mencapai 10,8% (accumulated fiscal deficit). Namun dibandingkan negara lain di periode yang sama, ini lebih kecil. Misal Thailand 17%, Filipina 22,1%, China 11,8%, Malaysia 13,6%, dan India 16,5%.

"Ini yang saya kritik sebagai ahistoris dan nirkonteks. Kita pruden," tegasnya.

Selain itu, Yustinus mengatakan bahwa selama pandemi pemerintah merealisasikan Rp1.635,1 triliun untuk menolong rakyat menghadapi pandemi. Kemudian di 2022, fiskal dapat dijaga dengan baik.

"Ini berkat tata kelola yang baik, kerjasama dengan semua pihak, termasuk DPR dan parpol. Tentu juga Partai Demokrat yang kritis dan kerap tak setuju dalam banyak hal. Realisasi defisit 2022 2,38% atau Rp464,33 triliun. Jauh di bawah target Rp840 triliun," ujarnya.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Menurut Yustinus, Ketum Partai Demokrat perlu mendapat asupan informasi yang komprehensif soal ini. Kerja keras APBN yang pruden, efisien dan antisipatif menekan defisit berkonsekuensi pada pembiayaan.

"Realisasi utang 2022 hanya Rp688,54 triliun atau 73% dari target. Tentu tak mudah mengelola ini. Betul bahwa posisi utang akhir 2022 Rp7.733,99 triliun. Besar ya? Iya! Sudah saya jelaskan konteks dan reasoning di atas. Kue ekonomi dan produktivitas kita pun membaik. Rasio utang sudah turun dari 40,74% di 2021 menjadi 39,57% di 2022. Mosok dibilang ugal-ugalan sih? Optimis ya Mas…" kata Yustinus.

Menurutnya, setiap negara itu beda dengan rumah tangga yang menua dan menjadi tak produktif. Negara selalu muda, bahkan makin berumur bisa lebih produktif.

Melunasi utang menjadi kurang relevan, apalagi komposisi utang kita baik dan sehat. Didominasi SBN, dalam IDR dan dipegang investor domestik.

"@AgusYudhoyono mungkin perlu tanya teman-teman PD di Komisi XI yang ikut berjibaku memikirkan penanganan Covid, antara lain melalui skema burden sharing dengan Bank Indonesia. Anggota Komisi XI dari Demokrat juga konstruktif. Ini wujud spirit gotong royong di saat sulit. Bagus kan Mas?" tuturnya.

Menurutnya, jika AHY banyak bergaul dengan Mantan Menteri Kemaritiman Rizal Ramli, barangkali akan disuguhi narasi yield/imbal hasil obligasi yang tinggi.

"Sudilah melihat grafik dan kita nilai dengan objektif dalam konteks geopolitik dan ekonomi global yang dinamis, kita toh dapat mengelola utang dengan baik," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini