Analis BRMP Lingkungan Pertanian, Ali Pramono, menjelaskan penerapan AWD dilakukan dengan memantau kelembapan tanah menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berlubang yang dibenamkan di sawah. Petani memberikan air kembali saat muka air turun 10–15 sentimeter di bawah permukaan tanah, lalu mengairi secara terbatas hingga ketinggian 3–5 sentimeter. Siklus ini diulang sesuai kondisi lahan dan cuaca, terutama pada fase kritis tanaman seperti pemupukan, penyiangan, hingga masa bunting dan berbunga.
“AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi,” tutup Ali.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.