Share

Bu Guru Difabel: Mimpi Mengendarai Motor Kini Jadi Nyata

Taufik Budi, Jurnalis · Senin 14 November 2022 10:01 WIB
Tri Marahayu, warga Jatingaleh, Kota Semarang masih sering tak percaya dengan kemampuan luar biasanya. Perempuan berusia 52 tahun itu bisa bepergian sendiri menuju luar kota, tanpa mengandalkan dua kruk kayu yang menopang tubuhnya. Sepeda motor roda tiga yang dirakit sesama difabel di Kota Semarang sangat membantu untuk mobilitas. Bukan hanya untuk aktivitas sehari-hari di ke tempat kerja, tetapi juga daerah-daerah yang sebelumnya hanya diketahui melalui foto atau layar televisi.
 
“Saya punya motor itu tahun pada 2009. Waktu itu memang tidak pernah punya keinginan (memiliki motor). Bagi saya itu hal yang mustahil, apalagi seorang perempuan punya motor, itu seperti bukan bukan tidak mimpi tapi memang tidak mungkin lah,” kata Tri Marahayu, Selasa (8/11/2022). “Tapi karena ada dorongan dari teman saya, Mas Suwanto yang memotivasi agar saya bisa mandiri secara total. Sebab, selama ini kemandirian itu hanya sebatas apa yang saya kerjakan di rumah dan kehidupan di lingkungan saja, tapi untuk akomodasi atau transportasi saya masih mengandalkan saudara-saudara saya,” beber dia.
 
Perempuan yang akrab disapa Yayuk itu mulai membulatkan tekad memiliki kendaraan sendiri agar bisa melakukan banyak aktivitas di luar rumah. Meski sebagai difabel, dia juga menjadi tulang punggung bagi kedua orangtuanya.  “Dengan adanya motor ini saya bisa mendapatkan pekerjaan, bisa beraktivitas. Karena sekarang ini saya menjadi tulang punggung untuk kedua orangtua saya yang kondisinya sudah tidak mampu melakukan aktivitas apa pun,” terangnya. 
 
Yayuk bercerita, harus menguras uang tabungan untuk membeli sepeda motor seken. Terkumpul uang sekira Rp2,5 juta yang diserahkan kepada rekannya Suwanto, pengelola bengkel Compac Motorcycle di RT 9/2 Kelurahan Jangli, Tembalang, Kota Semarang.
“Awal mula saya punya tabungan sedikit lalu minta Mas Suwanto untuk merealisasikan. Dengan budget yang minim yang penting bisa dapat motor. Dan akhirnya jadilah motor yang semula roda dua dimodifikasi menjadi roda tiga seperti sekarang ini,” lugasnya.
 
Setelah sepeda motor impiannya selesai dirakit, ternyata masih ada pekerjaan lain yang mesti dikuasai. Sebagai perempuan yang sebelumnya sama sekali tak mengerti sepeda motor dan mesin, ia harus berlatih agar bisa mengendalikan laju kendaraan.
“Saya butuh waktu 3 bulan untuk mencoba berlatih naik motor. Setiap saya pulang kerja, diantar adik ke tempat Mas Suwanto untuk belajar mengendarai motor, muter-muter sekitaran situ. Bahkan sampai 3 bulan lebih,” beber dia.
 
“Awalnya badan semua sakit, karena satu saya terus terang tidak pernah mengerti bagaimana mengoperasikan sepeda motor. Apalagi mengendarai betul-betul buta sama sekali tentang mesin, tiba-tiba harus mengondisikan saya mampu dan harus bisa (mengendarai motor),” sambungnya. Kesulitan terbesar ketika mengendarai motor adalah menjaga keseimbangan. Terlebih roda penggerak bagian belakang hanya terletak di sisi kanan, sehingga ketika melaju tangan kiri harus kuat menahan. 
 
“Motor saya menggunakan roda kanan sebagai penggeraknya, sehingga stang itu kalau kita tidak tahan dengan tangan yang sebelah kiri itu pasti akan berbelok ke sebelah kiri. Itu yang mengakibatkan badan sakit-sakit karena masih belum terbiasa,” jelasnya. 
“Terus pertama kali juga jatuh begitu parahnya, motornya juga rusak. Dari situ saya belajar untuk menyikapi situasi-situasi seperti itu. Belajar bagaimana saya jatuh dengan dengan cara yang aman, belajar meminimalkan kecelakaan agar tidak terlalu parah,” ujarnya seraya terkekeh.
 
Setelah mahir mengendarai sepeda motor doa tiga, muncul persoalan baru. Yayuk yang membawa kendaraan ke rumah, ditentang oleh kedua orangtuanya. Mereka tak mengizinkan Yayuk untuk naik motor karena khawatir terjatuh.“Awalnya enggak boleh naik motor. Dilarang banget. Sampai saya bisa buktikan bisa naik motor sendiri dengan aman. Akhirnya diizinkan, termasuk untuk touring bareng teman-teman. Karena naik motor begini memang butuh jam terbang dan durasi panjang untuk berlatih,” imbuhnya.
 
Kendaraan roda tiga menjadi sebagai sarana transportasi yang nyaman baginya. Sebab, kendaraan itu juga disediakan tempat untuk menaruh kruk, yang membantunya berjalan. Dengan mengendarai motor roda tiga itu, dia menempuh perjalanan cukup panjang dari rumah Jatingaleh sekolah Yayasan Penderita Anak Cacat (YPAC) Semarang. 
 
“Motor ini sangat membantu untuk menunjang mendapatkan penghasilan. Saya berangkat setiap hari dari rumah sampai ke YPAC di dekat Simpang Lima, untuk mengajar. Begitupun dengan aktivitas-aktivitas kegiatan lain, baik untuk kegiatan organisasi maupun kegiatan sosial,” kata dia.
 
Bukan hanya berangkat ke tempat mengajar, motor tersebut juga kerap digunakan touring bersama komunitas difabel. Dengan kendaraan roda tiga masing-masing, mereka membelah kepadatan arus lalu lintas menuju berbagai daerah.“Saya kalau arah selatan sampai ke Jogja, Solo, kalau yang sebelah timur itu ke arah Rembang, kalau yang ke barat sampai Pekalongan. Touring ini juga akan memberikan kita pembelajaran, karena ada ilmunya, ada tata tertibnya, bagaimana touring yang baik dan benar. Melatih kita menjaga ketahanan tubuh baik itu secara fisik maupun kondisi armadanya,” tandas dia.
 
Dia pun tak khawatir jika kendaraan yang setiap hari menemani berangkat kerja mendadak rusak. Setiap bulan, Yayuk membawa ke bengkel Compac untuk perawatan rem , penggantian oli mesin, maupun perbaikan lainnya.
“Saya rutin tiap bulan dicek kondisi motor ini. Yang paling sering ganti itu kampas rem depan. Sama ganti oli saja. Kalau perbaikan berat selama ini belum pernah. Jadi memang awet motor ini. Akhirnya mimpi untuk mengendarai motor kini memang menjadi nyata,” cetusnya.
 
Pengelola bengkel Compac Motorcycle, Suwanto, menyampaikan, hingga kini sudah ratusan sepeda motor roda dua yang berhasil dimodifikasi menjadi roda tiga. Pesanan tak hanya datang dari Semarang dan sekitarnya, tetapi juga sudah merambah ke luar Jawa termasuk Kalimantan. “Lebaran kemarin kita mengirim motor roda tiga ke Kalimantan dan Jakarta. Kalau untuk Jawa Tengah sudah semuanya merata,” kata pria yang akrab disapa Wanto itu. “Untuk biaya modifikasi berkisar dari Rp5 juta sampai Rp8,5 juta per unit. Itu tidak termasuk harga unit motornya ya. Untuk yang Rp5 juta itu menggunakan penggerak satu roda sebelah kanan, dan hanya satu rem bawaan. Untuk yang Rp8,5 meliputi penggerak dua kanan kiri, pakai gardan, juga bisa atret,” rincinya. 
 
Pria berusia 42 tahun itu menyampaikan, kendaraan modifikasi buatannya berbeda antara satu dengan lainnya. Sebab, kendaraan itu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing difabel yang memesan.“Kan setiap difabel ini memiliki keterbatasan yang beda-beda. Makanya untuk motor yang saya buat juga melihat kondisi pemesan. Misalnya itu nanti dia pakai alat bantu kursi roda atau kruk, jadi desain motor roda tiga juga menyesuaikan untuk menaruh alat bantunya,” beber dia.
 
Dia menjelaskan, Compac merupakan singkatan dari Komunitas Motor Penyandang Cacat. Bengkel itu sengaja dibentuk ari keinginan para penyandang disabilitas, agar bisa beraktivitas menggunakan sepeda motor roda tiga tanpa menyusahkan orang lain. 
Komunitas terbentuk sejak 2004 dan berhasil menciptakan modifikasi motor roda tiga pada 2006. Sejak itu, pesanan modifikasi motor roda tiga bagi difabel terus berdatangan. Seluruh proses pengerjaan dilakukan manual oleh Suwanto bersama adik, dan penyandang disabilitas lainnya.
 
“Untuk waktu pengerjaan modifikasi sekira 2-4 pekan untuk satu motor, tergantung tingkat kerumitan. Baik matik atau manual bisa kita kerjakan. Jangan khawatir kecepatan masih sama bisa dipacu kecepatan sesuai roda dua aslinya,” ungkapnya. 
Pria yang mengenyam pendidikan hanya sampai SMP itu mengaku belajar merakit motor secara otodidak. Keinginan itu muncul setelah mengetahui rekannya sesama difabel bisa mengendarai motor roda tiga.
 
“Dulu awalnya ingin buat sepeda onthel saja, tapi berhubung jalan dekat rumah saya itu naik-turun, kalau sepeda kesulitan juga. Akhirnya membuat motor sekalian agar bisa untuk aktivitas pergi-pergi. Jadi tidak merepotkan keluarga saudara dan orang lain,” tutur dia. “Ilmu yang saya dapatkan secara otodidak, karena terpaksa saya butuh (motor roda tiga). Jadi akhirnya saya bisa membuat roda tiga yang sampai sekarang, dan bisa dibilang semakin lumayan agak canggih dan modern,” katanya bangga.
 
Meski demikian, dia mengaku tak akan melayani pesanan modifikasi motor roda tiga untuk orang normal. Termasuk, bengkel juga hanya memberikan layanan perbaikan pada motor-motor roda tiga bagi difabel. “Saya tidak melayani semua konsumen yang datang kepada saya, terutama orang normal. Walaupun dia mau membayar atau mau ngasih order saya tidak mau. Karena menurut pemikiran saya, ini fasilitas untuk difabel, agar difabel tidak semakin mandiri dan beraktivitas sendiri,” ujarnya.
 
“Syukurilah karunia Tuhan, yang memiliki kaki sempurna dan bisa berjalan normal. Bengkel ini biar melayani para difabel saja, karena motor roda tiga difabel itu biasanya enggan melayani perbaikannya. Kan lebih ribet ketimbang yang roda dua,” imbuh dia.
Keseriusan bengkel Compac sebagai penggerak motor roda tiga bagi difabel berbuah manis. Bukan hanya mengalirnya pesanan dari berbagai daerah, tetapi juga digandeng sejumlah lembaga.
 
Suwanto sebagai penjaga gawang bengkel Compac mendapat penghargaan dari Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) pada 2019. Dia disebut sebagai orang yang menginspirasi dan berinovasi untuk bangsa, dengan menciptakan kendaraan roda tiga bagi difabel. Selain itu, Pertamina melalui program Enduro Sahabat Difabel memberikan bantuan pelatihan dan modal untuk melengkapi peralatan bengkel. 
 
“Waktu itu tiba-tiba dihubungi orang yang bilang dari Pertamina. Saya kurang tahu dapat nomor saya dari mana, tiba-tiba Pertamina menghubungi saya untuk program CSR (corporate social responsibility). Ternyata ada CSR untuk difabel, dan berjalan sampai sekarang,” kata dia. “Itu sangat membantu sekali untuk perkembangan kemajuan bengkel. Harapan ke depan, bengkel Compac bisa lebih maju lagi dan tidak berlokasi di gang sempit seperti ini. Harapannya bisa punya tempat yang lebih besar untuk mewadahi, melayani teman-teman difabel,” harapnya.
 
Sales Region Manager IV Pertamina Lubricants, Komang Wira Kardita, menyampaikan, telah dua tahun ini menjalin kerjasama dengan bengkel Compac. Terdapat dua bengkel difabel yang diajak kerjasama yakni di Semarang dan Bantul DIY.
“Ini salah satu kegiatan CSR yang kita lakukan untuk komunitas penyandang disabilitas. Jadi pemilihannya kenapa di sini, yakni komunitas ini yang berminat terkait bidang pekerjaan kami yaitu di bidang pelumas atau otomotif,” ujarnya.
 
Pihaknya berkomitmen untuk membantu dan mengembangkan bengkel Compac. Pelatihan-pelatihan akan digelar dengan melibatkan penyandang disabilitas di bengkel, untuk meningkatkan kapasitas di bidang otomotif.“Jadi kerjasamanya sudah berlanjut sekira 2 tahun. Kita memberikan pelatihan, edukasi terkait pelumas. Kita juga memberikan support perlengkapan. Nanti ke depan kita akan melakukan pelatihan lagi selain pelatihan teknis, tapi juga bagaimana cara meningkatkan marketing, sehingga efektivitas dan produktivitas bisa tercapai lebih bagus,” ungkap dia. 
 
Pengamat transportasi, Theresia Tarigan, turut mengapresiasi, bengkel modifikasi motor roda bagi para difabel. Menurutnya, bengkel itu merupakan solusi agar mereka bisa beraktivitas tanpa menggantungkan pada orang lain.“Saya melihat itu suatu kemandirian dari komunitas tersebut untuk mencari solusi atas kendala tubuh mereka. Jadi satu hal yang saya kira itu harus ditingkatkan keamanannya, bagaimana kita memberi bantuan teknik, spesifikasinya hingga menjadi layak uji,” katanya. 
 
Perempuan yang akrab disapa There itu menyebut uji kelayakan kendaraan merupakan ranah pemerintah kabupaten/kota. Dia pun mendorong, pemerintah segera melakukan pendampingan sebagai upaya menjamin keselamatan berkendara.“Kalau wewenang uji kelayakan itu di kabupaten/kota. Tetapi saya sangat gembira ketika Dinas Perhubungan Jawa Tengah juga menyatakan akan memperhatikan bagaimana bekerjanya bengkel atau workshop Compac tersebut,” tuturnya. “Jadi ini suatu suatu semangat untuk peduli, semangat inklusi bagi semua warga kota terkait mobilitas mereka,” imbuhnya.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

(Taufik Budi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini