BEKASI - Salah satu daerah penyangga ibu kota, yakni Bekasi, saat ini dikenal sebagai kota penyumbang kaum commuter terbanyak ke Jakarta.
Selain itu, Bekasi juga disebut-sebut sebagai daerah yang sangat potensial untuk bisnis properti. Sejumlah pengembang kelas kakap seperti Summarecon, Adhi Karya, dan Agung Sedayu Group telah menancapkan investasinya di daerah berpenduduk 2 juta jiwa lebih ini.
Terlepas dari hal itu, ternyata Bekasi juga menyimpan catatan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Salah satunya melalui keberadaan gedung bersejarah, yakni Gedung Juang 45, di Tambun, Bekasi.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Bekasi, tamsel.bekasikab, Rabu (30/12/2015), gedung tersebut juga akrab disebut 'Gedung Tinggi' oleh warga sekitar.
Bangunan yang memiliki gaya arsitektur neoklasik Eropa ini di bangun oleh seorang tuan tanah bernama Kow Tjing Kie pada 1910 silam. Gedung yang berdiri diluas lahan sekira 1.000 meter persegi ini terdiri dari dua lantai.
Dalam proses konstruksinya, bangunan ini melewati dua tahap, tahun 1906 dan tahun 1925. Pada awalnya, di bagian halaman muka Gedung Juang ini, dijadikan taman buah yang diantaranya banyak ditanami pohon mangga yang pada saat itu belum pernah dikenal masyarakat Tambun dan Bekasi.
Tuan tanah Kouw Oen Huy, menguasai bangunan tua ini hingga 1942. Selanjutnya, tahun 1943, bangunan bersejarah tersebut berada di bawah pengawasan pemerintahan Jepang hingga tahun 1945. Tentara Jepang, juga menggunakan bangunan tua ini sebagai pusat kekuatannya dalam menjajah Indonesia.
Masing-masing lantai memiliki ketinggian 4 meter. Sedangkan atap dari bangunan itu memiliki tingkat kemiringan mencapai 50 persen. Penyangga dari bangunan ini terdiri dari beberapa pilar yang terbuat dari semen cor.
Dinding Gedung Juang 45 diperkirakan memiliki ketebalan 15 cm, terbuat dari batu bata merah. Gedung tersebut dilengkapi dengan 5 unit bangunan lainnya. Satu bangunan berupa rumah tempat tinggal, yang berdiri di sisi kiri bangunan utama serta tiga bangunan paviliun yang satunya berukuran lebih kecil.
Di lantai satu bangunan utama, terdapat satu ruang utama yang berada tepat di belakang tangga utama. Sedangkan empat kamar lainnya terdapat di sisi kiri dan kanan ruang utama. Sebelum pintu utama terdapat sebuah teras yang di batasi dinding berukuran satu meter.
Gedung yang sarat makna dan sejarah ini sudah beberapa kali berubah fungsi. Komite Nasional Indonesia (KNI) untuk dijadikan sebagai Kantor Kabupaten Jatinegara. Pada masa itu, Bekasi dijadikan sebagai daerah front pertahanan, maka gedung tersebut berfungsi juga sebagai Pusat Komando Perjuangan RI dalam menghadapi Tentara Sekutu yang baru selesai perang dunia kedua.
Baru mulai tahun 2000-an, fungsi gedung dikembangkan sebagai pusat kegiatan kepemudaan pemerintah daerah setempat seperti tempat latihan Paskibraka, Bela Diri, bahkan sampai markas dari Pemadam Kebakaran Daerah setempat.
(Rizkie Fauzian)