Rupiah Anjlok, Beban Operasional Jembo Cable Meningkat

, Jurnalis
Rabu 10 Oktober 2018 12:30 WIB
Ilustrasi: Shutterstock
Share :

JAKARTA – Buntut dari terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berdampak terhadap performance kinerja keuangan PT Jembo Cable Company Tbk (JECC). Pasalnya, kondisi tersebut membuat beban operasional membengkak. Maklum saja, bahan baku kabel masih sebagian besar dari impor.

Baca Juga: Rupiah Terabas Level Rp15.248, Anjlok Terendah Sejak Krismon 1998

Hingga Juli tahun ini, kenaikan bahan baku mencapai 13,7% year on year (YoY) bagi bahan baku tembaga serta sebesar 19,9% bagi produk aluminium miliknya."Selisih kurs kalau pun ada maka mempengaruhi ke harga pokok yang pada gilirannya akan terdampak kepada gross profit. Namun, selisih kurs sendiri tidak begitu terasa jadi bisa dikatakan dalam batas yang ditoleransi," ujar Direktur PT Jembo Cable Company Tbk Cahayadi Santoso di Jakarta, dikutip dari Harian Neraca, Rabu (10/10/2018).

Meski demikian, Cahyadi mengatakan, JECC tetap optimistis bisa membukukan pertumbuhan pendapatan. Perseroan menetapkan target pendapatan senilai Rp2,56 triliun atau meningkat 17,25% dibandingkan pendapatan penjualan 2017 sebesar Rp2,14 triliun. Hal tersebut tercermin dalam buku pendapatan penjualan di Juni 2018 yakni senilai Rp1,49 triliun atau 55,83% dari total target penjualan tahun ini.

 

Selain itu, perseroan juga memperkirakan laba komprehensif tahun berjalan pada tahun ini meningkat menjadi Rp133,5 miliar. Nilai tersebut sudah direalisasikan sebanyak 37,86% pada catatan keuangan Juni 2018 senilai Rp50,54 miliar.”Jadi fokus utama kami yakni memperluas jaringan distribusi, karena penjualan ke distributor itu terus meningkat dari dua tahun lalu itu mencapai 2% sekarang mendekati 40%. Jadi distributor sebagai salah satu market akan ditingkatkan terus," tambahnya.

Kontrak perseroan saat ini masih mengandalkan dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan swasta. Saat ini, kontrak pada PLN mencapai 30% dari total penjualan dan 16,15% dipegang swasta lainnya. Dijelaskan Cahyadi, PLN dan swasta tidak mau mengubah nilai kontrak sehingga biaya produksi perseroan masih menggunakan patokan Rp13.000-an per dolar. Seperti diketahui, JECC pada akhir tahun 2017 mencatatkan pendapatan Rp2,184 triliun dan laba bersih Rp83,355 miliar.

Baca Juga: Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah Terpuruk di Level Rp15.240

Selain itu, lanjut Cahyadi, perseroan tengah menimbang untuk melakukan pemecahan nilai saham atau stock split pada tahun depan untuk mencapai target kinerja keuangan. Hal itu juga dipercaya dapat meningkatkan likuiditas saham.“Salah satu opsi agar saham perseroan likuid dengan melakukan stock split,” kata dia.

Disampaikannya, perseroan masih menunggu penutupan buku keuangan 2018 untuk selanjutnya opsi stock split akan segera dilakukan,”Kalau kita punya performa yang stabil seperti tahun lalu dan juga ditambah situasi ekonomi di Indonesia, jadi mungkin tahun depan dilakukannya. Jadi kami juga mempersiapkan buat tahun politik juga kalau stock split di tahun depan," ujar Cahayadi.

 

Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan penjualan bersih sebesar Rp2,5 triliun pada 2018. Target ini meningkat 19,04% dari realisasi penjualan pada tahun lalu senilai Rp2,18 triliun. Tercatat sampai semester I 2018, realisasi penjualan sudah sekitar setengah dari target akhir tahun dan karena itu, perseroan optimis target bisa tercapai.

Di kuartal I 2018, pendapatan bersih JECC meningkat 38,97% menjadi Rp763,22 miliar. Seiring pendapatan yang meningkat, beban pokok juga naik 48,53% menjadi Rp664,02 miliar dari tahun sebelumnya Rp447,04 miliar. Alhasil, laba bersih JECC pada kuartal I 2018 turun 7,94% menjadi Rp39,03 miliar dari periode sebelumnya sebesar Rp42,40 miliar.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya