JAKARTA - CEO Coca-Cola James Quincey menilai bisnis yang dikelolanya kemungkinan tidak akan pulih cepat. Terkecuali bila ditemukan vaksin corona, itu menjadi solusi yang paling baik untuk dunia usaha.
Saat ini, perusahaan berusaha memulihkan kinerja seperti sebelum Covid-19 meluas. Namun, diakui James, bahwa hal itu sulit sebelum vaksin ditemukan.
Baca Juga: Putra Miliarder Ini Hidup Sederhana, Pilih Tinggal di Pinggir Kota
"Bisnis masih berjuang untuk pulih ke tingkat pra-Covid bahkan di tempat-tempat di mana tidak ada penularan virus yang sebenarnya dan sebagian besar lokasi diizinkan untuk dibuka. Kami masih belum kembali ke tingkat itu bahkan di tempat yang paling terkendali,” ujarnya mengutip halaman CNBC, Kamis (23/7/2020).
Negara-negara seperti Selandia Baru dan Thailand telah mulai mengalami penurunan kasus. Sedangkan di Amerika Serikat dan negara-negara lain justru bertambah kasusnya.
Lonjakan terbaru ini pun menyebabkan banyak negara bagian dan negara memberlakukan kembali pembatasan pada bar, bioskop dan makan malam di dalam ruangan seperti restoran. Hal ini memberikan pukulan bagi bisnis Coke.
Baca Juga: Cerita Awal Mula dari Ditemukan Mesin Cetak hingga Revolusi Industri
Perusahaan biasanya menghasilkan sekitar setengah dari pendapatannya dari penjualan di luar rumah. Selama kuartal kedua, pendapatan anjlok 28% menjadi USD7,2 miliar, menandai penurunan pendapatan kuartalan terbesar dalam lebih dari 30 tahun.
Saham Coke naik hampir 3% dalam perdagangan kemarin. Saham, yang memiliki nilai pasar USD203 miliar, telah turun 14% sepanjang tahun ini.
(Feby Novalius)