Di sisi pendapatan, negara membukukan Rp574,9 triliun, meningkat 10,5 persen (yoy). Kekuatan pendapatan ini didorong oleh penerimaan pajak yang tumbuh sangat kuat sebesar 20,7 persen (yoy).
Performa ini menjadi modal penting bagi APBN untuk menjalankan fungsinya sebagai shock absorber di tengah ketidakpastian global.
Meskipun belanja melesat, Purbaya memastikan bahwa risiko fiskal tetap dalam pantauan ketat. Defisit keseimbangan primer tercatat sebesar Rp95,8 triliun pada periode ini.
"Itu sesuatu yang normal, tapi yang jelas kita monitor terus selama setahun akan seperti apa, pendapatannya belanjanya seperti apa, jadi kita amat berhati-hati dalam perhitungan ini," pungkasnya.
(Taufik Fajar)