JAKARTA – Memiliki produk yang berkualitas bukan berarti selalu memiliki pasar yang luas. Bagi banyak pengusaha ultra mikro, produk makanan olahan hingga kerajinan khas daerah masih berputar di lingkungan sekitar, sementara peluang untuk menjangkau pembeli yang lebih besar masih terbuka lebar.
Kondisi tersebut tergambar dalam riset Bappenas mengenai usaha mikro dan kecil di Indonesia yang diterbitkan pada 2025. Sebanyak 98 persen usaha yang disurvei masih melayani pasar di lingkungan sekitar.
Sementara itu, baru 10 persen yang menjangkau pasar nasional dan 4 persen yang melayani pasar internasional. Angka tersebut menunjukkan masih besarnya ruang bagi para pengusaha untuk memperluas jangkauan pasar.
Bagi PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM, membuka akses pasar menjadi bagian penting dalam mendorong usaha nasabah untuk berkembang. Sebab, pengalaman PNM dalam mendampingi usaha ultra mikro menunjukkan bahwa pembiayaan dan kemampuan menghasilkan produk perlu berjalan beriringan dengan kesempatan untuk menjangkau lebih banyak pembeli.
“Dalam mendampingi usaha ultra mikro, kami di PNM belajar bahwa memiliki modal dan menghasilkan produk saja belum cukup. Ada tantangan lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana produk tersebut dapat menjangkau lebih banyak pembeli,” ujar Direktur Operasional dan Hubungan Kelembagaan PNM Lalu Dodot Patria Ary.