Hadapi Tantangan Tanam Sawit, Petani Perlu Tahu Cara Ambil Keputusan Tepat

Feby Novalius, Jurnalis
Senin 19 Oktober 2026 19:07 WIB
Pentingnya pendampingan dan transfer pengetahuan untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil perkebunan kelapa sawit rakyat. (Foto: Okezone.com/Kemenkop)
Share :

JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya pendampingan dan transfer pengetahuan untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil perkebunan kelapa sawit rakyat. Upaya tersebut diperlukan agar petani mampu menerapkan praktik budidaya yang tepat dan mengambil keputusan sesuai kebutuhan tanaman.

“Kita ingin produktivitas sawit rakyat naik dan kualitasnya setara dengan standar industri. Hal itu hanya bisa dicapai jika ada pendampingan, transfer pengetahuan, dan kolaborasi yang kuat,” kata Amran.

Petani kelapa sawit menghadapi berbagai tantangan dalam mengelola kebun, mulai dari memilih bibit, menentukan dosis pupuk, hingga mengenali gejala serangan hama dan penyakit. Pengetahuan mengenai teknik budidaya diperlukan agar petani dapat menentukan langkah yang tepat sesuai kondisi tanaman dan kebun.

Dalam praktiknya, petani perlu memahami karakteristik tanaman, kebutuhan unsur hara, serta metode pemeliharaan yang sesuai. Kesalahan dalam memilih bibit, menentukan dosis pupuk, atau mengendalikan gulma dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman dan produktivitas kebun.

Pemilihan bibit menjadi salah satu aspek penting karena berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Selain itu, petani perlu menyesuaikan jenis dan dosis pupuk dengan kebutuhan tanaman agar pemupukan berjalan efektif.

Petani juga perlu mengenali gejala serangan hama dan penyakit sejak dini agar dapat menentukan langkah pengendalian yang sesuai. Pengelolaan gulma, pemangkasan pelepah, serta penentuan waktu panen turut memerlukan pemahaman mengenai kondisi tanaman.

Dalam pengendalian gulma, salah satu metode yang dapat diterapkan adalah spot spraying, yaitu penyemprotan secara terarah pada area yang membutuhkan pengendalian. Penerapan metode tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi kebun dan tingkat pertumbuhan gulma.

Selain itu, pengaturan songgo, yakni pelepah penyangga tandan buah kelapa sawit, serta pemangkasan pelepah (pruning) perlu dilakukan sesuai kebutuhan tanaman. Pemahaman mengenai teknik tersebut membantu petani menentukan tindakan pemeliharaan yang sesuai.

Berbagai aspek budidaya tersebut menjadi materi pembelajaran bagi petani sawit swadaya di sekitar wilayah operasional PT Dwiwira Lestari Jaya (DLJ), Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sebanyak 42 petani mengikuti kegiatan yang mencakup keselamatan kerja, biologi kelapa sawit, persiapan lahan, penanaman, pembibitan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pengelolaan gulma, hingga panen.

Perwakilan Pemerintah Desa Biatan Ulu, Kabupaten Berau, Jarmansyah, mengatakan peningkatan pengetahuan mengenai teknik budidaya diharapkan dapat membantu petani memperbaiki pengelolaan kebun dan meningkatkan hasil panen.

“Banyak petani kami yang selama ini hasilnya belum memuaskan. Harapan kami, pengetahuan yang diperoleh bisa menambah wawasan dan meningkatkan hasil kebun masyarakat,” ujar Jarmansyah.

Petani swadaya mengelola kebun secara mandiri, mulai dari penanaman dan perawatan hingga panen. Karena itu, kemampuan mengenali kondisi tanaman, memilih metode perawatan, dan menggunakan sarana produksi sesuai kebutuhan menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan sehari-hari.

Dengan memahami teknik budidaya yang tepat, petani diharapkan dapat mengevaluasi praktik pengelolaan kebun dan menentukan tindakan berdasarkan kondisi tanaman serta kebutuhan kebun.
 

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya