Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

6 Bandara Alternatif Disiapkan, Menhub: Maskapai Bisa Gunakan untuk Cegah Penumpukan Penumpang

Feby Novalius , Jurnalis-Senin, 07 September 2026 |15:49 WIB
6 Bandara Alternatif Disiapkan, Menhub: Maskapai Bisa Gunakan untuk Cegah Penumpukan Penumpang
Pemerintah menyiapkan enam bandara alternatif untuk menjaga konektivitas penerbangan selama sejumlah bandara ditutup. (Foto: Okezone.com/Kemenhub)
A
A
A

JAKARTA — Pemerintah menyiapkan enam bandara alternatif untuk menjaga konektivitas penerbangan selama sejumlah bandara ditutup akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, Banten. Keenam bandara tersebut dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi operasional penerbangan.

Keenam bandara tersebut yakni Bandara Juanda di Jawa Timur, Bandara Adi Soemarmo di Jawa Tengah, Bandara Internasional Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta, Bandara Adisutjipto di Daerah Istimewa Yogyakarta, Bandara Jenderal Ahmad Yani di Jawa Tengah, serta Bandar Udara Internasional Kertajati di Jawa Barat.

"Kami mendorong agar maskapai dapat menggunakan bandara tersebut untuk menghindari penumpukan penumpang, baik yang akan datang maupun yang akan terbang. Ini yang kita harapkan supaya pengaturan penumpang bisa optimal," kata Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi saat memantau secara langsung Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (7/9/2026).

Penggunaan bandara alternatif tersebut tetap menyesuaikan kondisi operasional, kesiapan bandara, rute penerbangan, serta keputusan masing-masing maskapai. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus berkoordinasi dengan pengelola bandara, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, serta instansi terkait untuk memastikan penyesuaian operasional dapat dilakukan secara aman dan terkoordinasi.

Kemenhub mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan menggunakan transportasi udara untuk memastikan status penerbangannya kepada maskapai sebelum menuju bandara. Penumpang yang terdampak penutupan bandara juga diimbau mengikuti arahan dan kebijakan maskapai terkait perubahan jadwal maupun pengalihan penerbangan.

"Kami mengapresiasi masyarakat yang telah tertib mengikuti aturan dan arahan terkait kondisi penerbangan saat ini. Dukungan dan kepatuhan masyarakat sangat membantu proses penanganan kondisi ini, khususnya dalam menjaga keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan," kata Dudy.

Kemenhub juga meminta masyarakat terus memantau perkembangan kondisi penerbangan melalui kanal informasi resmi Kemenhub, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, serta informasi resmi dari masing-masing maskapai. Status operasional bandara dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan kondisi keselamatan penerbangan.

Kemenhub bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus memantau dan mengevaluasi kondisi penerbangan serta memperbarui informasi sesuai perkembangan terbaru. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas sekaligus menjaga konektivitas transportasi udara bagi masyarakat.

Sejumlah Bandara Masih Terdampak Abu Vulkanik
Hingga Senin pagi, sejumlah bandara di Jawa dan Sumatera masih terdampak secara operasional akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah memutuskan penutupan sementara operasional sejumlah bandara masih dilanjutkan hingga pukul 18.00 WIB.

"Penyesuaian operasional penerbangan dilakukan secara dinamis mengikuti kondisi aktual di lapangan dan perkembangan sebaran abu vulkanik," ujar Dudy.

Sejumlah bandara yang masih akan ditutup hingga pukul 18.00 WIB yakni Bandara Soekarno-Hatta, Banten; Bandara Radin Inten II, Lampung; Bandara Budiarto, Banten; Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta; Bandara Pondok Cabe, Banten; Bandara Muhammad Taufiq Kiemas, Lampung; serta Bandara Husein Sastranegara, Jawa Barat.

Sementara itu, Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan, yang sempat ditutup, sudah dapat beroperasi secara normal sejak pukul 09.00 WIB.

BMKG mencatat, pada Senin (7/9) pagi, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terpantau pada dua lapisan ketinggian, yakni hingga 15.000 kaki dan 50.000 kaki. Kondisi tersebut masih berpotensi memengaruhi jalur penerbangan sehingga penyesuaian operasional bandara dan penerbangan terus dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan sebaran abu vulkanik serta informasi keselamatan penerbangan terbaru.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement