Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perbedaan IHSG Hijau dan Merah serta Cara Membacanya

Niken Wulandari , Jurnalis-Senin, 19 Oktober 2026 |07:02 WIB
Perbedaan IHSG Hijau dan Merah serta Cara Membacanya
Perbedaan IHSG hijau dan merah serta cara membacanya menjadi penting untuk dipahami, terutama di tengah gejolak pasar saham. (Foto: Okezone.com/Aldhi Chandra)
A
A
A

JAKARTA – Perbedaan IHSG hijau dan merah serta cara membacanya menjadi penting untuk dipahami, terutama di tengah gejolak pasar saham. Pada Jumat (16/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 678,67 poin atau 11,57% ke level 5.185.

Tekanan tersebut terjadi di tengah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai pembukaan periode konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Sentimen tersebut turut menekan pasar hingga Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt).

Lantas, apa arti warna hijau dan merah pada IHSG, serta bagaimana cara membacanya agar tidak salah mengambil keputusan investasi?

Perbedaan IHSG Merah dan Hijau

Mengutip laman resmi BEI, IHSG merupakan indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham yang tercatat di Papan Utama dan Papan Pengembangan. Pergerakan indeks mencerminkan perubahan harga saham secara agregat di pasar.

Secara umum, IHSG berwarna hijau ketika indeks berada di atas level penutupan sebelumnya. Sebaliknya, IHSG berwarna merah ketika indeks berada di bawah level penutupan sebelumnya.

IHSG yang menguat menunjukkan bahwa pergerakan harga saham secara keseluruhan cenderung positif. Sementara itu, IHSG yang melemah menandakan tekanan jual lebih dominan terhadap pergerakan indeks.

Meski demikian, kenaikan IHSG tidak otomatis membuat seluruh saham ikut menguat. Begitu pula ketika IHSG melemah, tidak semua saham pasti mengalami penurunan. Karena itu, investor perlu mempertimbangkan kinerja masing-masing saham dan tidak menjadikan warna indeks sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan.

Saat IHSG menguat, investor dapat mempertimbangkan untuk merealisasikan keuntungan (take profit) jika target investasi telah tercapai atau mempertahankan saham (hold) sesuai strategi jangka panjang. Namun, investor tetap perlu mewaspadai kenaikan harga yang terlalu cepat.

Sebaliknya, ketika IHSG melemah, investor sebaiknya tidak langsung panik. Cari tahu penyebab penurunan terlebih dahulu, kemudian evaluasi apakah saham masih layak dipertahankan, perlu dibeli secara bertahap, atau dijual untuk membatasi kerugian (cut loss) sesuai batas risiko yang telah ditetapkan.

Cara Membaca IHSG

Langkah pertama adalah membandingkan level IHSG saat ini dengan penutupan perdagangan sebelumnya. Setelah itu, perhatikan persentase perubahannya untuk mengetahui besarnya penguatan atau penurunan indeks.

Perubahan IHSG terjadi mengikuti dinamika transaksi saham di bursa. Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak menilai arah pasar hanya berdasarkan pergerakan satu hari. Amati tren dalam beberapa hari, minggu, hingga bulan melalui grafik indeks.

Investor dapat menggunakan grafik garis, batang, maupun lilin (candlestick) untuk mengamati pergerakan pasar. Pada grafik lilin, warna hijau dan merah umumnya menunjukkan arah pergerakan harga sesuai pengaturan platform yang digunakan. Namun, arti warna tersebut dapat berbeda bergantung pada pengaturan grafik dan indikator yang dipilih.

Selain pergerakan indeks, investor perlu memperhatikan volume transaksi dan kinerja sektor-sektor saham. Jika sebagian besar saham dan sektor mengalami penurunan, kondisi tersebut dapat mengindikasikan tekanan pasar. Sebaliknya, penguatan yang meluas ke berbagai sektor dapat menunjukkan sentimen pasar yang lebih positif.

Dalam analisis teknikal, pasar yang cenderung bergerak naik disebut bullish, sedangkan pasar yang cenderung bergerak turun disebut bearish. Adapun pergerakan yang relatif mendatar dalam rentang tertentu disebut sideways.

Kenaikan harga yang disertai volume transaksi besar dapat menunjukkan aktivitas perdagangan yang kuat. Namun, volume tetap perlu dianalisis bersama arah harga, kondisi pasar, dan faktor fundamental agar tidak menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Pada akhirnya, warna hijau dan merah hanyalah salah satu petunjuk untuk memahami pergerakan pasar saham. Investor perlu memperhatikan persentase perubahan, tren indeks, volume transaksi, serta kondisi masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement