JAKARTA - Mengawali pembukaan perdagangan awal pekan ini, rupiah ditutup melemah, mengikuti jejak indeks harga saham gabungan (IHSG) yang merosot.
Rupiah pada perdagangan Senin (28/9/2009) ditutup melemah ke posisi Rp9.720-Rp9.750 per USD dibanding perdagangan akhir pekan lalu di level Rp9.650-Rp9.665 per USD.
Pelemahan ini terjadi akibat pasar finansial yang memburuk menyusul koreksi di bursa regional.
Di sisi lain, pelaku pasar valuta asing banyak menjual rupiah, mengingat rupiah sudah menguat cukup tajam sehingga mereka melakukan aksi ambil untung (profit taking). Kendati demikian, pelemahan ini masih dalam kisaran yang wajar.
Sementara itu, nilai tukar yen memperoleh dukungan penguatan setelah Menteri Keuangan Jepang Hirohisa Fujii secara terpisah menyarankan agar otoritas moneter jangan cenderung meredam naiknya nilai tukar.
Pelaku pasar merujuk pada laporan kantor berita Kyodo News yang dikutip sebagai mengatakan bahwa Fujii mengatakan kepada Menteri Keuangan AS Timothy Geithner, menolak untuk memanipulasi nilai tukar yen.
Jepang telah melakukan intervensi di pasar valuta di saat yang lalu guna meredam apresiasi yen karena hal ini menjadi keuntungan kompetitif pada perdagangan global. Namun Menteri Keuangan Jepang yang baru ini yakin bahwa yen akan merefleksikan kondisi fundamental ekonomi Jepang.
Seperti dikutip dari Valbury Securities, draft dari statement G20 yang bocor ke media mengatakan, global stimulus akan dipertahankan, dan ini mengindikasikan bahwa suku bunga dari bank-bank sentral akan tetap rendah.
Hal ini menekan dolar Amerika, karena dengan suku bunga yang rendah mendekati nol persen, investor akan kurang beralasan
untuk memegang dollar-denominates assets. Namun komentar Fujii pada hari Kamis menjadi alasan yang kuat bagi investor untuk melakukan aksi jual dolar Amerika, di sesi perdagangan hari Jumat.
Sementara, euro menguat atas dolar Amerika tertolong oleh data yang menunjukkan bahwa consumer sentiment naik pada
September dan menjadi level tertinggi sejak Januari 2008.
(Rani Hardjanti)