JAKARTA - Penguatan rupiah yang terjadi pada perdagangan kemarin dinilai terlalu cepat. Akibatnya, pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah menjadi sangat rawan atas aksi ambil untung yang dilakukan investor.
Â
"Namun saya berpendapat bahwa penguatan rupiah ke level Rp9.670-an termasuk terlalu cepat, sehingga rawan profit taking," kata Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono, di Jakarta, Kamis (1/10/2009).
Â
Karena itu, dia menuturkan jika rupiah pada perdagangan hari ini akan mengalami koreksi. "Meski tidak terlalu besar, di range Rp9.670-9.700," ujarnya.
Â
Menurutnya, penguatan rupiah yang terjadi kemarin disebabkan oleh sentimen positif yang non-ekonomi. Misalnya, pengungkapan laptop Noordin M Top (gembong teroris asal Malaysia) dia nilai cukup dramatis dan memberi confidence bahwa dari aspek keamanan, Indonesia mencatat prestasi gemilang, justru di saat negara lain sedang bermasalah. "Ini hal yang bisa membangkitkan optimisme perekonomian Indonesia," jelasnya.
Â
Sementara itu, hal yang berbeda diungkapkan oleh analis valas Toni Mariano. Dia menuturkan, rupiah masih memiliki peluang untuk meneruskan penguatannya pada perdagangan hari ini.
"Rupiah masih sangat bergantung dengan indeks Dow Jones, dan nampaknya indeks Dow Jones akan memberikan sentimen positif pada rupiah," jelasnya.
Secara fundamental perumbuhan ekonomi dunia sudah mulai kondusif saat ini. Optimistis itu nampaknya yang akan mengangkat indeks Dow Jones. "Walau dengan naiknya indeks Dow Jones, dolar Amerika akan menguat juga," ucapnya.
Â
Menurutnya, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini masih akan berada dalam kiaran Rp9.600-9.700 per USD.
(Rani Hardjanti)