"BUMN Ayo IPO!"

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis
Senin 08 Agustus 2011 12:36 WIB
Menko Perekonomian Hatta Rajasa Foto: Tangguh Putra/okezone
Share :

JAKARTA - Diturunkannya rating utang Amerika Serikat (AS) satu notch Rating Kredit Jangka Panjang menjadi "AA+" dari sebelumnya "AAA" oleh S&P diperkirakan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi negara Adidaya tersebut. Imbasnya aliran dana asing diperkirakan akan masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia.

Guna menjaga agar aliran dana asing tersebut tidak masuk pada saham-saham portfolio, Menteri Koordinator Bidang Perekonomin Hatta Rajasa mengharapkan makin banyak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan penawaran umum perdana kepada publik (initial public offering/IPO).

"Kita mendorong IPO (BUMN) kepada publik, jadi publik itu bisa membeli dan memperkuat struktur daripada bursa kita. Semakin banyak yang IPO semakin baik," tutur Hatta kala ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (8/8/2011).

Menurutnya, IPO BUMN memang sulit dilakukan tahun ini karena sudah terlalu mepet. Namun, tahun ini Hatta berharap dapat menjadi tahun persiapan beberapa BUMN yang akan melakukan IPO di tahun depan.

"Seperti Semen Baturaja, kemudian persiapan juga BUMN-BUMN lain yang besar itu mereka sedang lakukan persiapan," tuturnya.

Lebih jauh, dia mengungkapkan, pemerintah telah mempersiapkan protokol dengan Bank Indonesia (BI) yang disebut dengan crisis management protocol, untuk menjaga agar tidak terjadi penarikan dana secara besar-besaran (sudden reversal).

"Jadi sharing informasi dan sebagainya, jadi kita bisa quick respons, dan jangan lupa ada cadangan besar dan dana di APBN kita juga ada disediakan," tukas Hatta.

Seperti diketahui, lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) belum lama ini menurunkan peringkat utang luar negeri AS menjadi AA+ dari sebelumnya AAA. S&P juga memberi A-1+ untuk rating jangka pendek AS.

Adapun alasan dari peringkat AS tersebut diturunkan karena situasi politik yang tak menentu, beban AS terhadap utang-utangnya yang meningkat, serta outlook yang negatif.

(Andina Meryani)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya