JAKARTA - Kebanyakan orang memilih tidak peduli untuk berurusan dengan sampah yang jumlahnya sedikit dalam kehidupan mereka. Tetapi, tidak dengan Eddie Platt, ekspatriat Inggris yang tinggal di Marseille, kota di selatan Prancis.
Pria berusia 38 tahun itu meluncurkan kampanye unik pada September lalu dengan judul ”1 Dechet par Jou /1 Piece of Rubbish” . Idenya sederhana meskipun tidak seksi. Partisipan hanya mengunggah foto selfie di media sosial, seperti Facebook, Instagramatau Twitter setiap mereka memungut sampah dan membuangnya di tong sampah.
Ternyata, 10 ton sampah yang berhasil dibuangnya. Upaya yang dilakukan Platt mendapatkan dukungan luas dari Buenos Aires hingga New York. Gerakan itu pun terkenal dan mendunia. Ide untuk ”memungut satu buah sampah” itu muncul saat dia tinggal di Leeds, kota kelahirannya di Inggris. ”Saya kembali ke Leeds musim panas lalu. Saya menyadari kota saya sangat kotor,” keluhnya, dikutip AFP.
(BACA JURUS KAYA: Minutes Barber, Tukang Cukur via Aplikasi)
Saat itu Platt langsung selfie saat memungut sampah di Roundhay Park, salah satu taman paling terkenal di Eropa. Padahal, Platt tidak menyebut dirinya sebagai aktivis lingkungan. Dia hanya mau disebut sebagai warga yang peduli dengan lingkungannya. ”Eddie Platt itu lelaki yang memiliki energi menakjubkan.
Dia berbicara tentang idenya setiap waktu. Dan kini ide itu bergerak di media sosial,” kata kawan Platt, Georges-Edouard Legre. Aksi kepedulian lingkungan yang dilakukan Platt tidak hanya memungut sampah di jalanan. Pada Minggu (3/4) lalu Platt memimpin 350 warga Marseille mendaki bukit tertinggi di kota itu untuk melakukan operasi pemungutan sampah.
Beberapa akhir pekan lalu aksi pembersihan sampah dilakukan di Pelabuhan Tua di Marseille. Awalnya apa yang dilakukannya juga tidak mendapatkan respons dan kerap dicemooh. ”Saya mengatakan kepadanya, jika sukses mengubah gaya hidup warga Marseille, saya akan menyembahmu,” kata Legre. Selain dibantu Legre, Platt juga didukung Romain Jouanaud yang membantu kampanye via internet.
”Kita harus menciptakan simbol, tanpa banyak berucap,” kata Jouanaud. Meskipun bukan penduduk asli Marseille, pria berjenggot itu ingin menunjukkan kecintaannya kepada kota itu dengan melakukan hal yang kecil. Kecintaannya ke kota itu terjadi tanpa sengaja. Lima tahun lalu seorang kawannya menyarankannya untuk mengajar di Naples, Italia selatan.
Tapi, dia justru memilih pergi ke Marseille. Dia pun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. ”Marseille itu kota yang inovatif,” kata Platt. ”Kota yang miskin. Rakyatnya berjuang keras. Tapi, di sana memiliki energi positif,” imbuhnya. Kini Platt dan kawankawannya menggalang dana dan mengembangkan proyek bertema lingkungan.
(BACA JURUS KAYA: Minutes Barber, Tukang Cukur via Aplikasi)
”Memungut sampah kini menjadi hal yang seksi,” kata Platt. Dia pun berjanji tidak akan berhenti memungut sampah. Platt awalnya bekerja sebagai manajer restoran di Inggris selama 10 tahun. Profesinya berlanjut dengan bekerja di perusahaan teknologi. Tapi, dia memilih pergi ke luar Inggris dan bekerja sebagai guru bahasa.
”Saya memilih pergi ke Polandia untuk mengajar dan pendapatan saya menurun hingga 90%,” ungkap Platt. Bagi dia, uang tidak memotivasi lagi. ”Saya ingin membantu banyak orang untuk memperkaya kehidupan mereka,” ujarnya. (Andhika Hendra)
(Rani Hardjanti)