PALEMBANG – Sumber daya Indonesia yang melimpah ternyata banyak melahirkan produk-produk dalam negeri yang dihasilkan dari keanekaragaman hasil sumber daya alam bumi Indonesia. Salah satunya kerajinan bambu, yang dikelola para pengerajin menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi dan diyakini mampu bersaing di pasaran lokal dan pasaran nasional.
Bertempat dijalan irigasi kelurahan Jaya Baru, kecamatan Alang-Alang lebar, Herlin Kiosasi bersama enam pegawainya sudah dua bulan terakhir menjalankan bisnis barunya yakni, membuat usaha kerajinan bambu.
Berbekal ketekunan dan tanpa disengaja Herlin Kiosasi yang juga pernah bekerja sebagai jurnalistik ini, bekerjasama dengan pengrajin bambu asal Jawa yang mengajaknya untuk membuka bisnis kerajinan bambu, bisnis dipilih lantaran dinilai usaha kerajinan bambu di sumatera selatan masih terbilang langka.
Bahkan untuk memperoleh bahan baku tidak begitu sulit dan masih banyak di Lingkungan masyarakat. Olahan kerajinan bambu menjadi barang produksi untuk di Sumatera selatan masih terbilang langka dan jarang, sehingga bambu-bambu untuk produksi mudah diperoleh.
Jenis bambu yang digunakan biasanya jenis bambu buluh atau bambu hitam, karena bambu ini terbilang kuat dan tahan lama bahkan dapat mencapai belasan tahun, dan biasa bambu-bambu ini dipesan dari masyarakat kemudian dipotong-potong dengan ukuran yang disesuaikan dengan pesanan, lalu, untuk menjadikan bambu menjadi kursi atau meja, bambu harus dirapikan terlebih dahulu.
Selanjutnya bambu-bambu tersebut dibuatkan lubang bulatan, untuk menyambung sisi-sisi satu sama lainnya. Dalam hal ini perlu keahlian khusus dalam mengelola bambu yang ada, sehingga bambu yang dihasilkan benar-benar tepat dengan ukuran bambu yang dipergunakan sebagai penyanggahnya.
kemudian bambu yang telah dilubangi dirangkai sesuai bentuk yang akan dibuat seperti meja ataupun kursi, seluruh bagian dibuat menggunakan bambu dan setelah itu bambu dicuci untuk menghilangkan debu dan kotaran.
Sebelum masuk ke tahapan pengecatan, bambu yang telah dicuci dijemur di terik matahari, untuk masa penjemuran ini yang cukup memakan waktu yang lama/ sekitar 5 sampai 7 hari/ hingga bambu benar-benar bersih.
Setelah itu bambu yang telah kering dilakukan pengecatan, disesuaikan dengan pesanan konsumen, tentunya soal harga tidak perlu khawatir. Harga di sini bervariasi dari Rp250 ribu hingga Rp1,5 juta untuk ukuran yang cukup besar. Namun hal itu tentunya sebanding dengan kenyamanan saat menggunakan kursi yang terbuat dari bahan baku bambu ini.
Usaha yang baru dirintis dua bulan terakhir ini saja, sudah mampu menghasilkan omzet hingga puluhan juta. Hal ini lantaran kerajinan dari bambu ini memiliki kualitas yang tidak diragukan lagi.
(Fakhri Rezy)