JAKARTA - Pemerintah hingga saat ini masih berjuang untuk meloloskan RUU Tax Amnesty. Saat ini, rencana tersebut masih dibahas pada tingkat Panitia Kerja (Panja).
Ketidakpastian RUU Tax Amnesty ini ternyata berdampak pada penurunan penjualan perumahan di Indonesia. Menurut Ketua DPP Real Estate Indonesia (REI) Eddy Hussy, banyak konsumen kelas menengah ke atas yang memutuskan untuk menunda pembelian rumah hingga adanya keputusan tax amnesty pada tingkat parlemen.
"Kita tanya kepada konsumen, mereka bilang nanti lihatlah setelah tax amnesty," kata Eddy saat ditemui usai rapat koordinasi di kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (25/5/2016). (Baca juga: Untuk Rumah Sederhana, IPW Dorong BI Berlakukan Uang Muka 0% )
Menurut Eddy, apabila dibandingkan kuartal pertama tahun lalu, nilai penjualan rumah di Indonesia menurun hingga 30 persen. Selain faktor tax amnesty yang belum memperoleh kepastian, hal ini juga disebabkan oleh sentimen ekonomi global yang masih belum menunjukkan pertumbuhan yang berarti.
"Tahun lalu kuartal satu, kita bandingkan dengan kuartal satu tahun ini turun sampai 30 persen. Ini kan perekonomiannya juga melemah. Mereka enggan membelanjakan keuangannya," jelas Eddy. (Baca juga: REI: Belum Ada Tanda-Tanda Pasar Perumahan Lebih Baik)
Seperti yang diketahui, RUU Tax Amnesty memang diyakini akan menambah arus modal yang masuk ke Indonesia melalui dana repatriasi. Hal ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi nasional, terutama investasi pada sektor infrastruktur.
"Ya kita juga tidak berani banyak membangun karena kita harus tinggi tax amnesty jadinya," tutup Eddy.
(Rizkie Fauzian)