JAKARTA– Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan dana subsidi kredit pemilikan rumah (KPR) dalam program fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) akan menjadi Rp35 triliun pada 2017. Jumlah tersebut naik signifikan dibandingkan dana subsidi FLPP untuk tahun ini yang sebesar lebih dari Rp12 triliun.
”Tahun depan kami telah usulkan ke Kementerian Keuangan, dana subsidi FLPP naik menjadi Rp35 triliun. Namun, kami belum mendapat jawaban dari Kementerian Keuangan,” ujar Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR Maurin Sitorus seusai pembukaan Indonesia Property Expo 2016 di Jakarta. (Baca juga: Pemerintah Masih Kaji Perubahan Porsi FLPP)
Maurin mengatakan, untuk menyukseskan program 1 juta rumah, pemerintah akan berusaha menaikkan subsidi FLPP agar semakin banyak rakyat yang bisa memiliki rumah. Fokusnya tidak hanya untuk para pekerja formula tetapi para pekerja informal pun diusahakan bisa menikmati subsidi FLPP ini.
Sementara, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menegaskan, sebagai bentuk komitmen pemerintah terhadap perumahan rakyat, Kementerian PUPR tidak akan memangkas dana subsidi FLPP meskipun Kementerian Keuangan melakukan pemangkasan anggaran. Bahkan, tahun depan dana subsidi FLPP akan ditambah.
”Memang belanja di kementerian dipangkas tetapi itu untuk efisiensi untuk perjalanan dinas. Untuk dana FLPP, tidak akan dikurangi,” tegasnya.
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Maryono menuturkan, demi mendukung program 1 juta rumah, perseroan menggelar Indonesia Property Expo (Ipex) 2016 yang diselenggarakan pada 13-21 Agustus 2016. Pameran yang didukung lebih dari 200 pengembang akan memamerkan lebih dari 700 proyek perumahan tersebar di seluruh Indonesia. ”Kami optimistis dari Ipex ini BTN akan dapat merealisasi kredit baru sekitar Rp4 triliun, ” jelasnya.
Maryono menjelaskan, permintaan rumah oleh masyarakat beberapa bulan terakhir ini masih cukup tinggi. Permintaan masih didominasi untuk rumah-rumah menengah bawah. Oleh karena itu, kegiatan Ipex 2016 dimaksudkan untuk merespons permintaan yang tinggi masyarakat terhadap rumah layak. ”Kami sudah menyiapkan kebutuhan rumah, baik untuk rumah bagi masyarakat menengah atas maupun masyarakat menengah bawah, yang masuk pada kelompok FLPP sebagai pendukung program 1 juta rumah,” tegasnya. (Baca juga: BI: Pencairan FLPP Baru Rp370 Miliar di Kuartal I)
Dalam pameran ini Bank BTN memberikan kebijakan khusus untuk transaksi yang dilakukan selama masa pameran berlangsung, antara lain suku bunga ringan 5 persen dan uang muka 1 persen, serta bebas biaya administrasi untuk KPR FLPP. Sedangkan untuk KPR BTN Platinium, mendapat diskon biaya provisi Bank dan administrasi sebesar 71 persen serta diskon biaya premi asuransi jiwa hingga 20 persen.
Menurut Maryono, sebagai bank dengan pangsa pasar terbesar dalam pembiayaan perumahan di Indonesia, BTN akan terus melakukan terobosan untuk meningkatkan penyaluran kreditnya. Kegiatan IPEX 2016 ini merupakan salah satu terobosan yang dilakukan untuk menambah kucuran kredit baru. Pasar perumahan di Indonesia yang masih terbuka lebar memberikan inspirasi kepada perseroan untuk kembali menyelenggarakan pameran ini.
Lebih lanjut dia mengatakan, pihaknya hingga akhir Juni telah berkontribusi merealisasikan pembangunan rumah kurang lebih 220.000 unit. Sisanya, masih ada 350.000 unit rumah hingga akhir tahun yang menjadi tanggung jawab BTN.
”Melihat perkembangan program 1 juta rumah yang semakin tahun semakin meningkat (permintaannya), BTN memutuskan tidak hanya memberikan pembiayaan dari sisi demand (permintaan), tapi akan melakukan pembiayaan dari sisi suplai atau developer,” katanya.
Selain itu, untuk mempercepat realisasi program 1 juta rumah tahun ini, pihaknya melakukan beberapa program kerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang properti.
(Rizkie Fauzian)