JAKARTA - Pasar saham memang menjadi tempat investasi yang paling menguntungkan. Bayangkan saja, kekayaan Min-Liang Tan, pria asal Singapura ini mampu melonjak dalam waktu semalam menjadi USD1,6 miliar.
Pemilik perangkat game Razer ini mendapatkan kado tersebut seminggu setelah dia menginjak usia 40 tahun. Nilai sahamnya di Bursa Hong Kong melesat drastis pada awal penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO).
Saham Razer melesat, karena didukung oleh investor kelas kakap seperti Temasek Holdings, IDG-Accel, dan miliarder asal Hong Kong Li Ka Shing. Saham Razer pun ditutup menguat 18% menjadi 4,38 dolar Hong Kong per sahan, di atas harga penawaran umum perdana 3,88 dolar Hong Kong per saham. Kenaikan saham ini pun membuat kekayaannya naik mencapai USD1,6 miliar.
Liang Tan sukses memasarkan brand-nya sebagai peralatan gaming ini awalnya adalah pengacara. Dia berhenti dari pekerjaannya sebagai pengacara pada tahun 2005 untuk memulai karirnya yang baru sebagai pendiri Razer dengan temannya yang berbasis di San Diego, Robert Krakoff. Saat ini, Razer telah menjual jutaan laptop gaming, mouse, gelang fitness dan tablet.
Tan pun menjadi pelopor pengusaha teknologi yang berhasil masuk ke daftar Forbes Singapore 50 Richest. Mantan pengacara ini, memiliki sekira 33% perusahaan Singapura dan San Francisco. Dia memulai debut pertamanya di daftar Forbes Singapore 50 Richest pada 2016. Pada bulan Agustus tahun ini, Forbes telah menghitung kekayaan bersihnya berada di USD700 juta, sebelum IPO.
Tan pun memiliki ciri khusus yakni gaya pakaiannya dengan kaus hitam dan celana jeans, Tan juga aktif berhubungan dengan penggemar Razer melalui media sosial. Dia baru saja mengunggah foto dari Mark Zuckerberg dan Nicholas Tse, menggunakan laptop Razer di Facebook dan Instagram.
Dua minggu yang lalu, dia meluncurkan Razer Phone, smartphone Andriod untuk para pencinta game yang masing dijual seharga USD699. Saat ini, smartphone tersebut hanya tersedia di Eropa dan Amerika Utara. Smartphone Razer telah diantisipasi secara luas, terutama mengingat pendapatan baru-baru ini.
Dia memproduksi Razer Phone setalah mengakuisisi Nextbit, sebuah perusahaan ponsel android yang didirikan oleh mantan karyawan Google, pada Januari lalu. Selain itu, pada Oktober lalu dia membeli THX, perusahaan audio yang didirikan oleh George Lucas. Tidak berhenti sampai di situ, Razer juga mengakuisisi Ouya, sebuah platform game mobile android pada Juli 2015.
"Kami punya banyak harapan untuk tumbuh ke dalam ruang hiburan film, musik dan hal-hal seperti itu. Itu adalah sesuatu yang sangat kami sukai," katanya seperti dilansir dari Forbes.
Namun, Pada 2016, kerugian bersih Razer meningkat dua kali lipat menjadi USD59,3 juta, dibandingkan dengan kerugian bersih di tahun sebelumnya sebesar USD20,4 juta. Meski begitu, pendapatan Razer meningkat 22,5% menjadi USD392 juta selama periode yang sama.
Meski demikian, dia menilai tidak masalah jika seseorang membuang waktu demi bermain game. Menurutnya, permainan sebagai hobi tidak selalu memiliki konotasi positif. Tan mengatakan, saat orang lain melihat dia menyia-nyiakan waktu, padahal dia sedang belajar sesuatu, melakukan sesuatu yang benar-benar konstruktif untuk masa depan.
Selain itu, dia juga bukan orang yang terlalu terpengaruh dengan hasil dan metrik buatan. Di sekolah, siswa diberi tahu bahwa mereka harus lulus ujian, dan jika gagal akan menghancurkan hidup mereka. Tapi dalam skema yang lebih besar, tidak ada yang peduli meskipun Anda mendapatkan nilai 'F', itu belum tentu tercermin dalam pekerjaan yang ingin Anda lakukan.
Tan membawa sikap ini ke Razer, di mana mereka sering merancang produk gila dengan risiko kegagalan tinggi. Perusahaan memasuki bisnis laptop, karena Tan tidak dapat menemukan laptop gaming yang hebat untuk dirinya sendiri.
Keputusan itu tidak masuk akal dan mereka awalnya kehilangan uang untuk setiap unit yang mereka jual. Tapi, dengan setiap iterasi, laptop menjadi lebih baik, dan versi terbaru mendapat ulasan positif.
Hal lainnya yang juga tidak pernah dia lakukan adalah bekerja terlalu keras.Dia menemukan bahwa jika Anda berjuang untuk bekerja sangat keras dalam sesuatu, itu berarti Anda tidak menyukai apa yang Anda lakukan atau Anda tidak terlalu ahli dalam hal itu. Tan menikmati menghabiskan waktu merancang produk, mendapatkan warna, sudut, dan presisi yang sempurna dari ciptaannya.
Meskipun menjadi CEO membuat beberapa aspek perusahaan yang tidak disukainya, namun dia bisa mempekerjakan orang-orang untuk melakukan hal-hal yang tidak dia sukai. Karenanya, Tan memastikan bahwa perusahaannya memiliki peran yang tepat untuk setiap orang yang dipekerjakannya.
(Martin Bagya Kertiyasa)