JAKARTA - Ford Motor akhirnya menjual anak usahanya, Volvo ke konglomerat China. Mereka menjual Volvo kepada, Zhejiang Geely Holding Group, yang berbasis di Hangzhou, sebesar USD1,8 miliar untuk Volvo, dengan uang tunai USD1,6 miliar dan sisanya dalam obligasi yang harus dibayarkan ke Ford.
Pembelian salah satu merek paling bertingkat di Eropa menunjukkan bagaimana China muncul tidak hanya sebagai pasar otomotif terbesar dalam jumlah, namun juga sebagai negara yang bertekad untuk menguasai pangsa pasar di seluruh dunia.
China melampaui Amerika Serikat pada 2009 sebagai pasar mobil terbesar di dunia dalam hal jumlah kendaraan keluarga yang terjual. Namun, rata-rata mobil di China terjual seharga USD17.000 tahun lalu sementara label harga rata-rata di Amerika Serikat mendekati USD30.000.
Salah satu pengusaha China yang terlibat dalam bisnis pembelian Volvo tersebut adalah Li Shufu yang masuk dalam Daftar Miliar Forbes dan 30 di China Rich List. Kini, dia adalah Ketua Zhejiang Geely Automobile Holdings dan Volvo. Asetnya diperkirakan mencapai USD5,5 miliar.
Li Shufu lahir pada 1963 di provinsi Taizhou, Zhejiang. Dia lahir dan dibesarkan di daerah agraris, di mana mobil atau penerbangan menjadi barang mewah. Dia membuat model mobil pertamanya pada usia 10 tahun, setelah mendapat inspirasi dari mobil-mobil Red Flag yang dia lihat di bandara militer terdekat.
Namun, penghasilan pertamanya adalah dalam fotografi, dengan bantuan sebesar USD16 yang diberikan oleh ayahnya pada 1980. Sayangnya, kamera murah yang dia miliki tidak ada gunanya untuk pekerjaan itu dan dia merancang sendiri perlengkapan pencahayaan dan perabotan untuk studionya.
Pengalamannya dalam bisnis fotografi membuatnya mencoba meraih emas dan perak dari mesin bekas. Sayangnya, persaingan yang ketat memaksanya keluar dari bisnis barang bekas tersebut.
Pada usia 23, dia kembali mencoba peruntungannya dalam bisnis pembuatan komponen kulkas, dan membuat lemari esnya sendiri dengan nama 'Artic Flower'. Dengan tidak terlalu banyak pemain yang mengikuti jejaknya tersebut, dia pun mencoba peruntungan lainnya
Dia pun mendirikan sebuah perusahaan bernama Geely yang dalam bahasa China, berarti 'beruntung'. Setelah mengalami kemunduran dan Pembantaian Tiananmen pada 1989, dia menyerahkan bisnisnya kepada pemerintah dan pergi untuk belajar selama beberapa tahun ke depan.
Setelah studinya, dia kembali memulai bisnis sepeda motor pada 1993 yang pada awalnya sukses. Namun, kehadiran pemain baru membuat dia harus bekerja ekstra. Dia pun membangun dua merek kendaraan roda dua dengan biaya hanya setengah dari versi Jepang dan mengekspornya ke 22 negara.
Dia memulai bisnis manufaktur mobilnya pada 1997 yang beroperasi dari bekas pabrik penjara di Chengdu. Geely tercatat di Bursa Hong Kong pada 2005 melalui skema backdoor listing.
Sayangnya, tidak mudah untuk membuat produksi masal kendaraan roda empat tersebut. Produksi awalnya pada 8 Agustus 1998 tidak memuaskan, dan Li tidak menjualnya. Batch kedua mobil tidak memenuhi standar yang dipersyaratkan. Pada 2000, sejumlah mobil lain dari unit kedua di Ningbo ternyata berkualitas buruk.
Ketika China bergabung dalam World Trade Organization (WTO), dia pun merancang dan memproduksi mobil sendiri. Mobil pertamanya bernama 'The Free Cruiser' dengan desain yang disediakan oleh Daewoo Korea Selatan, dibuat pada 2002 dan dipamerkan di sebuah pertunjukan internasional.
Kemudian pada 2002 dia berpikir untuk membeli Volvo dari Ford Motor Company. Meskipun Awalnya, mereka enggan menjualnya, tapi pada 2009, Geely mengakuisisi perusahaan transmisi otomotif terbesar, Australia DSI.
Akuisisi itu, seakan menghapus kekhawatiran Ford akan tidak mampunya perusahaan China untuk mengelola brand ternama tersebut. Dia pun akhirnya membeli Volvo pada 2010 dan memiliki pekerjaan berat, untuk membuat perputaran di perusahaan yang memiliki reputasi membuat mobil yang membosankan namun aman.
Dia pun terkenal dengan manajemen demokratik. Dia kerap berkonsultasi dengan para ahli dan mendapatkan banyak masukan sebelum mengambil keputusan. Penekanannya pada efisiensi perusahaan dan efisiensi material telah membantunya mengatasi kemunduran dan berlomba di depan.
Dia telah memenangkan berbagai penghargaan dan gelar seperti 'Master of Operation and Management', Elitist of Automobile Industry China selama 50 tahun terakhir, 'Top 10 pemimpin Inovasi Independen Perusahaan Swasta China', 'Top 10 Most Vibrant Enterprise Helmsmen in 2016 'Top 10 Pemimpin Inovasi Independen dari Perusahaan Swasta China' 'Hadiah Inovasi Bisnis Zheijian', dan lainnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)