JAKARTA - Intensitas belanja online masyarakat Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam enam tahun terakhir. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari maraknya e-commerce yang menghadirkan berbagai pilihan produk.
Co Founder sekaligus CFO Bukalapak Muhammad Fajrin Rasyid, memaparkan dalam enam tahun, kecenderungan belanja online masyarakat meningkat hingga lima kali lipat dalam enam tahun terakhir. Dalam satu tahun, masyarakat bisa berbelanja melalui toko online hingga 50 kali.
"Kami punya data yang belanja 2012 itu mereka belanja enggak sampai 10 kali dalam setahun tapi sekarang mereka itu belanja 50 kali dalam setahun," ujarnya di Kantor Pusat JNE, Jakarta, Kamis (21/2/2018).
Baca Juga: Gabung di Lapak Baru untuk IKM dan UKM Jualan Online, Apa Syaratnya?
Apabila ditelaah lebih lanjut, perilaku belanja online masyarakat menunjukan kecenderungan baru. Tidak hanya peningkatan intensitas, masyarakat juga tidak ragu untuk membeli barang yang harganya mahal. Hal tersebut mengindikasikan kepercayaan dan kepuasan masyarakat dalam berbelanja online.
"Memang pertama kali belanja ada worry dan ketakutan, sehingga belanja dengan barang kecil atau murah. Begitu kemudian merasakan pengalaman yang baik maka makin sering belanja dan mulai berani membeli barang yang mahal, misalnya elektronik seperti TV, lemari es, dan lain-lain," jelas dia.
Penjelasan Fajrin diamini oleh, Vice President of Marketing JNE Eri Palgunadi. Eri mengatakan, kemunculan e-commerce meningkatkan tren pengiriman barang berat untuk konsumen ritel lewat jasa pengiriman. Kondisi tersebut menandakan masyarakat mulai berbelanja barang besar melalui e-commerce meskipun harus menempuh jarak jauh, serta biaya yang lebih mahal.
Baca Juga: Berkat E-Commerce, Pertumbuhan Jasa Pengiriman Stabil 30% Tiap Tahun
Kecenderungan baru ini tidak terlepas dari upaya pemerintah menggeber pembangunan dan perbaikan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas antar wilayah. Menariknya, tidak hanya kota di Pulau Jawa, tren pengiriman barang berat ini juga tampak di kota luar Pulau Jawa seperti Makassar dan Balikpapan.
"Dulu kan barang-barang (yang dikirim) masih barang-barang yang ringan. Di data kami mulai ada yang kirim beras, sparepart kendaraan, furniture itu ada pasarnya," kata dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)