JAKARTA - Pada era digitalisasi saat ini proteksi data merupakan hal yang sangat penting. Sebab, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, serangan siber (cyberattack) juga turut berkembang yang dapat mencuri data. Pencurian data ini tentu dapat merugikan secara finansial.
President Director Everspin Indonesia Gary Tanoesoedibjo menyatakan, saat ini kesadaran masyarakat terhadap sistem proteksi data masih belum cukup. Menurutnya, hal ini terlihat dari kebiasaan masyarakat ketika mengunduh aplikasi di smartphone tidak peka terhadap potensi penyerangan sistem yang berasal dari aplikasi tersebut.
Baca Juga: Bos BEI Ingatkan Pentingnya Keamanan Siber di Era Digitalisasi
"Seperti ada satu aplikasi fintech yang di mana kalau kita telat pembayaran mereka bisa sedot contact list kita dan nge-blast ke semua teman-teman. itu kan malu juga. Jadi ada unsur sekuriti yang konsumen enggak sadar, mereka asal donwload," kata dia dalam diskusi yang bertema yang tema 'Cybersecurity in a Digital 4.0 Ecosystem' di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (24/1/2019).
Oleh sebab itu, menurutnya di sisi konsumen, perlu mendapatkan edukasi bahwa tidak semua aplikasi aman. Sementara, bagi produsen aplikasi juga harus memiliki prinsip melindungi data konsumen, sehingga sejak awal sudah membuat langkah mitigasi dari serangan siber.
"Suplier dari yang membuat aplikasi, sekarang itu lebih reaktif daripada preventif, bobol dulu baru mereka cari solusi. Jadi suplier harus ada pergantian mindset bahwa harus melindungi konsumen. Di dalam perbankan kepercayaan konsumen itu penting, kalau itu tidak ada, maka reliability hilang, bank harus proteksi reliability ini (begitu juga harus dilakukan aplikator lainnya)," jelas dia.
Gary menyatakan, kondisi tersebut membuat Everspin Indonesia sebagai perusahaan yang bergerak di industri keamanan siber atau cybersecurity, menawarkan produk yang memitigasi pencurian data. Terlebih di masa kini, aplikasi smartphone semakin berkembang pesat dan memerlukan perlindungan.
"Kami lihatnya kondisi ke depan, bukan masa sekarang. Indonesia ini pasar yang reaktif, biasa di bobol dulu baru cari solusi. Maka kami pikir masuk sebagai yang preventif," katanya.
Dia menjelaskan, perlindungan itu yakni membuat dengan memberikan sekuriti modul yang dinamis pada aplikasi. Artinya perlindungan akan dilakukan secara berkelanjutan dan otomatis, sehingga data konsumen terlindungi.
"Analoginya, aplikasi itu seperti pintu dan sekuriti modul itu sebuah gembok, mau gemboknya secanggih apapun kalau selama 2 bulan enggak diganti, itu maling bisa analisa ke dalam pintu tersebut. Nah analogi dinamis itu, kunci diganti setiap 2-10 menit. itu otomatis tanpa update software, kunci akan selalu diganti dan tidak di re-use lagi," jelas dia.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)