JAKARTA – PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menargetkan pada tahun ini sekitar 80% pengguna KRL Commuter Line dapat menggunakan kartu multi trip (KMT).
Fungsi KMT juga ditingkatkan oleh KCI berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI). Nanti KMT bisa digunakan sebagai kartu pembayaran elektronik (e-money).
“Kami masih menunggu izin dari BI bahwa KMT kami juga bisa untuk kartu elek tronik. Mudah-mudahan dalam waktu dekat (tahun ini),” ujar Direktur Utama PT KCI Wiwik Widayanti kemarin.
Baca Juga: Kartu Kereta Segera Terintegrasi dengan Transjakarta hingga MRT
Tergabungnya KMT sebagai e-money merupakan rencana mengintegrasikan moda transportasi massal di Jabodetabek. Ke depan KMT commuter line dapat digunakan untuk bus Transjakarta, light rail transit (LRT), serta mass rapid transit (MRT). “Kami juga koordinasi terus dengan moda operator lain,” katanya.
Selain berusaha merampungkan KMT menjadi e-money, KCI juga tengah menyosialisasikan sekaligus mengarahkan penumpang yang menggunakan tiket harian berjaminan (THB) ke KMT.
Untuk mendorong itu, KMT edisi khusus saat momen-momen tertentu diluncurkan sebagai bagian dari sosialisasi.
Vice President Corporate Communication PT KCI Eva Chairunissa mengakui pengguna KMT terus mengalami kenaikan. Saat ini 60% pengguna commuter line sudah menggunakan KMT, sementara sisanya masih memakai THB. Pada 2017 rata-rata pengguna KMT mencapai 860.000 orang.
Jumlah ini terus meningkat puncaknya pada 2018 pengguna KMT mencapai 997.000 orang per hari. Sedangkan tahun ini meski pengguna commuter line menembus 1 juta orang per hari, namun pihaknya tak mematok target tinggi. Sekitar 80% pengguna KRL ditargetkan menggunakan KMT pada 2019.
Dia optimistis target pengguna KRL sekitar 80% memakai KMT bakal berjalan mulus. Apalagi, dengan tambahan fasilitas KMT menjadi e-money tentu memudahkan KMT menjadi kartu pembayaran favorit karena bisa dipakai belanja di minimarket dan alat pembayaran tol.
Baca Juga: KCI Perpanjang Rangkaian KRL Commuter untuk Semua Rute
Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai rancangan KMT sebagai e-money cukup telat. Semestinya KCI telah membuat itu, bahkan merancangnya jauh-jauh hari.
“Bukan sekarang. Ini lebih kepada efisiensi,” katanya.
Saat ini warga khususnya pengguna transportasi Jabodetabek mulai dipusingkan dengan pembayaran commuter line yang belum tergabung e-money. Semestinya itu bisa dilakukan dan tak kalah dengan e-money milik bank yang bisa digunakan menumpang Transjakarta.
Selain menyindir keterlambatan KMT sebagai e-money, dia juga mencatat banyak stasiun yang belum terintegrasi moda transportasi lain seperti Transjakarta, LRT, dan MRT. Karena itu, dia mendorong KCI duduk bareng dengan operator moda transportasi lain demi mempercepat integrasi.
“Prinsipnya memudahkan masyarakat dalam mencari dan bertransportasi. Dengan demikian, masyarakat mau menggunakan angkutan umum dan meninggalkan kendaraan pribadi di rumah,” ujar Nirwono. (Yan Yusuf)
(Dani Jumadil Akhir)