Hingga akhirnya menikah pada tahun 2006 dan memiliki anak, Yuhyi berusaha mencari perkerjaan lain yang memiliki waktu banyak bersama keluarga. Maklum, profesi reporter menuntut banyak waktu, sehingga membuat ruang untuk bersama keluarga menjadi terbatas. Berbekal dari pengalamannya sebagai reporter TV dan penyiar radio, dia pun memilih untuk terjun ke dunia voice over profesional.
Mengawali karier baru sebagai voice over, Yuhyi pun mencari komunitas yang bisa mengembangkan kemampuan suaranya. Dia terus berlatih untuk menjadi voice over profesional, bahkan belajar 'memasarkan' suara dirinya. Ternyata media sosial menjadi wadah paling mumpuni untuk mempromosikan diri, di samping juga memanfaatkan kolega dari pekerjaan terdahulu dan kerabat.
"Bersama komunitas, kita sebar sampel ke audio post, dari situlah awalnya berjuang. Kemudian lewat Facebook mempromosikan diri sebagai voice over talent dengan memposting suara aku, juga menggunakan LinkedIn. Begitu acara aku me-marketing diri sendiri," kisahnya.
Pekerjaan pertamanya sebagai voice over, Yuhyi mendapatkan bayaran tak seberapa. Kala itu dia belum terlalu paham dengan bisnis di industri 'jual beli suara'. Namun dia tidak patah semangat, Yuhyi terus mengasah kemampuan.
Kini rejeki Ibu tiga orang anak itu terus mengalir, baik dari pemerintah, perusahaan kecil hingga perusahaan besar. "Ada juga yang iklan digital sama iklan tv, itu hampir sama nilai bayarannya, mereka sekali pesan bisa beberapa versi. Itu yang lumayan (nilai bayarannya)," jelas dia.
Yuhyi menilai, dirinya baru menjadi voice over profesional sejak 5 tahun terakhir. Tetapi suaranya pun kini tak hanya menghiasi aktivitas di Transjakarta, masyarakat dapat mendengarnya di berbagai iklan komersial di televisi, bahkan di beberapa iklan saat perhelatan akbar Asian Games 2018 lalu.