JAKARTA - Semen Indonesia Group sepanjang semester I-2019 mencatatkan pendapatan Rp16,35 triliun. Angka ini tumbuh sebesar 22,9% dari tahun sebelumnya yang hanya Rp13,3 triliun.
Meskipun kinerja penjualan cukup positif, namun penjualan semen secara kesuluruhan cukup melambat. Hal ini seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini.
Baca juga: Bisnis Lesu, Penjualan Semen Indonesia Turun 4,86%
Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2019 hanya 5,05% year on year (yoy). Angka itu melambat jika dibandingkan pertumbuhan pada kuartal II-2018 sebesar 5,27%.
Untuk tahun ini pertumbuhan penjualan semen secara industri akan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Sementara diprediksi pertumbuhan penjualan semen domestik tahun ini hanya 4%
Baca juga: Pendapatan Naik, Laba Bersih Semen Indonesia Anjlok 42%
GM Of Marketing PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) Johanna Daunan mengatakan, penjualan semen merupakan salah satu hal yang menjadi acuan dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kalau dilihat memang secara demand turun juga. Growth kita harapkan 4%, itu korelasi dengan pertumbuhan ekonomi," ujarnya saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (21/8/2019).
Johana menjelaskan, pertumbuhan penjualan industri semen itu sangat dipengaruhi untuk kategori penjualan ritel. Sebab untuk konsumsi semen domestik ritel mencapai 70% dari total penjualan.
Selain itu, para pelaku melihat adanya penurunan permintaan lantaran lesunya pembangunan rumah. Pembangunan rumah ini juga menjadi salah satu tolak ukur untuk pertumbuhan ekonomi.
"Karena kalau dari sisi pembangunan rumah ritel kurang juga, kurang permintaan semennya. Jadi orang enggak bangun lagi. Itu faktor utama yang kita rasakan," jelasnya.
(Dani Jumadil Akhir)