JAKARTA - Chairman Pusat Studi Air Power Indonesia, Chappy Hakim optimistis persoalan naiknya harga avtur yang dihadapi industri penerbangan bisa terselesaikan dan kembali normal.
Meskipun harus melalui berbagai tahapan.
Diketahui, industri penerbangan tengah mengalami tantangan yang berat.
BACA JUGA:Harga Avtur Naik! Siap-Siap Tiket Pesawat Makin Mahal
Pandemi Covid-19 menyebabkan pengetatan perjalanan yang berdampak pada turunnya jumlah penumpang.
Selain itu, perang antara Rusia dan Ukraina juga memberikan imbas pada nainya harga avtur.
"Kita tidak mengetahui perang Rusia-Ukraina kapan selesainya. Tapi sebagai pengalaman, bahwa naiknya harga minyak di pasar global itu tidak akan langsung turun kembali ke tingkat normal. Pasti ada tahapan-tahapan yang akan dihadapi. Karena tidak hanya tentang harga minyaknya, tapi pendistribusiannya pun akan terganggu. Tapi tetap, bisa terselesaikan," ujar Hakin di IDX Channel, Selasa (15/3/2022).
Dia menjelaskan, dalam rangka menyelesaikan persoalan tersebut, pihak maskapai tengah berkonsilidasi, dan pihak Pertamina juga sedang mengatur harga avtur supaya bisa terjangkau oleh maskakapai penerbangan.
"Untuk sementara pihak maskapai tengah berkonsilidasi, dan kita juga sudah mendengar juga pihak Pertamina mulai mengevaluasi bagaimana bisa mengatur harga avtur," katanya.
Selain itu, menurutnya pihak regulator juga pasti tidak tinggal diam dan akan memikirkan prioritas dari sistem penerbangan secara nasional agar perputaran ekonomi ini tidak terganggu.
Hakim menambahkan, naiknya harga avtur akan berdampak pada harga tiket maskapai.
BACA JUGA:Hanya Punya 11 Pesawat, Pertamina Stop Avtur Garuda Indonesia
Kendati demikian, guna menjaga stabilitas penumpang terlebih di masa pandemi, maskapai pasti memiliki model bisnis yang disesuaikan dengan harga.
Sehingga masyarakat tetap bisa memilih maskapai penerbangan sebagai moda transportasi.
"Misal bikin paket weekend atau paket lainnya. Akan tetapi yang pasti bahwa operating cost penerbangan akan sangat terganggu dengan meningkatnya harga avtur," pungkasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)