Milenial 'Malas' Jadi Petani, Apa Alasannya?

Advenia Elisabeth, Jurnalis
Sabtu 01 Oktober 2022 14:39 WIB
Guru Besar IPB Dwi Andreas menjelaskan alasan milenial malas jadi petani (Foto: MPI)
Share :

"Tahun 2020 sampai dengan saat ini kita mengalami fenomena La Nina. Peristiwa La Nina itu pada dasarnya selalu meningkatkan produksi cukup tajam. Yang paling rendah peningkatan produksi akibat La Nina paling itu tahun 2007 sebesar 4,7% lalu tertinggi tahun 2016 sebesar 9,6%. Lah kok di tahun 2020 hanya naik 0,09 %. Malah di tahun 2021 yang saat itu terjadi La Nina produksinya turun," ujarnya.

Pertanyaan besarnya, mengapa demikian?

Dwi menerangkan, berdasarkan survei AB2TI setiap bulan di seluruh jaringan tani di 46 kabupaten, sejak Agustus 2019 sampai dengan Juni 2022 harga gabah kering panen di tingkat petani terus mengalami penurunan.

"Teman-teman tani kami sudah semakin malas menanam padi. Kenapa menanam padi malas? karena sudah sangat jomplang antara biaya produksi dengan harga jual. Para petani itu jadinya rugi," jelas dia.

Maka dari itu, sambung Dwi, tak ayal jika saat ini kaum milenial tidak berminat bertani.

"Petani itu kan realistis, dalam arti kalau mereka menanam sesuatu dan itu tidak menguntungkan maka akan ditinggalkan, ketika ditinggalkan, lahan tersebut biasanya dilepas karena sudah tidak menguntungkan bagi para petani untuk bertani," tukasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya