JAKARTA - Protes yang jarang terjadi di China terjadi. Mereka meminta kebijakan nol Covid-19 di Beijing mungkin menimbulkan gelombang baru ketidakpastian politik dicabut, sehingga dapat mempercepat pembukaan kembali ekonomi nomor dua dunia itu.
Saham China pada perdagangan Senin mengalami hari terburuk dalam sebulan ini. Selain itu mata uang China juga jatuh.
Sementara saham global berada di bawah tekanan dan harga minyak merosot lebih dari 3,0% karena pengunjuk rasa menunjukkan pembangkangan sipil yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Presiden Xi Jinping mengambil alih kekuasaan satu dekade yang lalu.
Baca Juga: Wall Street Anjlok Akibat Demo Besar Guncang China
"Protes menjadi perhatian dalam jangka pendek," ujar Kepala Strategi Principal Global Investors, Seema Shah, dikutip dari Antara, Selasa (29/11/2022).
Pasar China pun mengalami tahun yang menantang, ditambah risiko politik setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari serta kekhawatiran atas pertumbuhan ekonominya karena pembatasan Covid yang ketat dan dampak dari kesulitan sektor propertinya.
Baca Juga: Wall Street Turun Imbas Kekhawatiran China soal Covid-19
Portofolio obligasi China telah membukukan arus ke luar setiap bulan sejak Rusia menginvasi Ukraina dengan total USD105,1 miliar selama sembilan bulan, menurut data dari Institute of International Finance (IIF). Portofolio saham China kehilangan 7,6 miliar dolar AS pada Oktober saja, terbesar sejak Maret.
Pada Senin (28/11/2022), yuan di pasar internasional melemah terhadap dolar menjadi 7,2468 dan dolar Australia yang sensitif terhadap risiko, yang sangat terkait dengan pertumbuhan China, adalah mata uang utama dengan kinerja terburuk, turun 1,61% menjadi 0,6649 dolar AS.
Saham Apple Inc turun 2,7% karena keresahan pekerja di pabrik iPhone terbesar dunia di China memicu kekhawatiran pukulan yang lebih dalam pada produksi ponsel kelas atas yang sudah terbatas.