JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meyebut dividen yang dikontribusikan perusahaan pelat merah bertahan di kisaran Rp50 triliun hingga Rp80 triliun pada 2024.
Hal ini didasarkan pada kinerja dan pendapatan perseroan negara tahun ini. Pada kuartal I/2023 saja, pendapatan BUMN secara konsolidasi sudah mencapai Rp730 triliun.
Jumlah tersebut naik 15 persen dibandingkan periode yang sama 2022 yakni Rp 630 triliun. Erick berharap kinerja dan pendapatan perusahaan tahun ini bisa meyumbang dividen pada tahun depan.
"Kalau pendapatannya naik, mudah-mudahan dividen yang Rp 80,2 triliun tahun kemarin (kinerja BUMN), mungkin tahun ini (kinerja) angkanya tetap bisa di Rp 50 triliun-Rp 80 triliun," ujar Erick, Jumat (5/5/2023).
Dia menegaskan nominal dividen 2024 baru berupa proyeksi. Artinya, nilai itu bisa direalisasikan tergantung pada fluktuasi kinerja dan pendapatan BUMN tahun ini. "Saya belum memutuskan karena masih harus proses keuangan yang harus dilakukan," ucap dia.
Adapun, dividen yang dikontribusikan BUMN tahun ini ditargetkan mencapai Rp 80,2 triliun. Setoran itu diberikan perusahaan pelat merah dengan status terbuka (Tbk) dan tertutup (Persero).
Dividen BUMN yang sudah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp 50,20 triliun. Emiten terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, (BNI).
(Taufik Fajar)