Di Kota Semarang, ia memiliki istana yang luas mencapai 81 hektar, yang terdiri dari rumah utama, dua paviliun, kolam renang, kebun binatang pribadi, dan fasilitas lainnya.
Selain kesuksesan bisnisnya, Oei Tiong Ham juga memiliki kehidupan pribadi yang menarik. Ia memiliki satu istri dan 18 selir. Meskipun memiliki banyak selir, ia sangat mencintai putri keduanya yang bernama Oei Hui Lan.
Sementara itu dengan keberhasilannya mengambil alih pabrik gula, Oei Tiong Ham dijuluki sebagai "Raja Gula dari Jawa". Bisnisnya terus berkembang dan ia mulai memiliki berbagai macam aset.
Melalui perusahaan Oei Tiong Ham Concern (OTHC) yang berdiri tahun 1893, ia membuka cabang beberapa negara. OTHC memiliki empat anak perusahaan yang berada di Singapura, London, India, dan London.
Pada periode 1911 hingga 1912, OTHC berhasil mengungguli perusahaan asing dalam ekspor gula. Penjualan gula dari perusahaan ini berhasil memegang kendali sebesar 60% pasar di Hindia Belanda.
Kekayaan Oei Tiong Ham memungkinkannya memiliki sejumlah rumah mewah dan bahkan istana. Diperkirakan kekayaannya mencapai 200 juta gulden atau senilai Rp 43,4 triliun saat itu.
Pada tahun 1938, Oei Tiong Ham memutuskan untuk pindah ke Singapura karena kondisi politik yang tidak kondusif di Semarang. Empat tahun setelahnya tepatnya 6 Juli 1942 ia meninggal dunia karena serangan jantung.
Setelah kematiannya, bisnisnya diteruskan oleh sejumlah putra dan istrinya. Para pewaris Oei Tiong Ham menuntut Bank Indonesia cabang Amsterdam.