JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah membuka jutaan lapangan kerja dari aktivitas menyediakan layanan makanan berkualitas yang dilakukan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Program MBG bukan sekadar memastikan gizi anak Indonesia terpenuhi, tapi kini sudah menjadi tumpuan hidup banyak masyarakat.
"Sekarang sudah ada 1.067.000 tenaga kerja yang bekerja di 22.900 SPPG yang sudah operasional. Jadi, hari ini sudah 24.320 SPPG yang terverifikasi, dan 100 persen itu semuanya adalah SPPG yang dibangun oleh elemen masyarakat Indonesia," kata Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, dalam acara diskusi "MBG Talks" yang digelar di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Sony mengatakan efek ganda program MBG bukan sekadar menciptakan lapangan kerja, tapi membuka ceruk ekonomi baru yang bisa berkorelasi pada perbaikan lingkungan. Minyak goreng bekas atau jelantah dari aktivitas dapur MBG disebutkan bakal memiliki nilai tambah.
Dari data yang dipegang BGN, sedikitnya setiap SPPG dalam satu bulan menghasilkan 500 liter jelantah. Sisa minyak goreng ini tidak akan masuk ke parit-parit yang bakal mencemari lingkungan, tapi akan diolah menjadi barang bernilai ekonomi.
"Dengan adanya SPPG, orang mulai aware bahwa 500 liter per bulan dari satu SPPG, ini satu potensi ekonomi yang lain. Nah, ini membuka wawasan bagaimana meningkatkan perekonomian," kata dia.
Perlu diketahui, program MBG telah menjangkau 58,3 juta penerima manfaat per 19 Januari 2026. Sejak digulirkan pada 2025, MBG pada periode pertengahan Januari telah membentuk 21.102 SPPG.
Seturut itu, realisasi anggaran untuk menjangkau puluhan juta penerima manfaat tersebut senilai Rp18 triliun atau persisnya Rp17,398 triliun per 16 Januari 2026. Secara harian, realisasi anggaran tembus di angka Rp855 miliar. Jumlah ini naik signifikan dibanding periode sebelumnya, yakni Rp8,55 miliar untuk penggunaan dana operasional harian.
(Feby Novalius)