Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Bisa Kembali Melonjak

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis
Minggu 12 Juli 2026 14:24 WIB
Harga minyak mentah dunia berpotensi meroket pada perdagangan sepekan ke depan seiring meningkatnya tensi geopolitik. (Foto: Okezone.com/Reuters)
Share :

JAKARTA - Harga minyak mentah dunia berpotensi meroket pada perdagangan sepekan ke depan seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah adanya penutupan Selat Hormuz pada hari ini.

Secara teknikal, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan bergerak pada kisaran level support USD62,30 per barel hingga resistance USD82,20 per barel. Meski masih berpeluang mengalami koreksi, harga minyak diperkirakan berpotensi menguat tajam apabila sentimen geopolitik terus memburuk.

"WTI Crude Oil dalam sepekan kemungkinan diperdagangkan di level support USD62,30, kemudian resistance USD82,20. Jadi, ada kemungkinan besar turun, tetapi akan menguat tajam," ujar pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, Minggu (12/7/2026).

Ia menjelaskan, faktor utama yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak berasal dari perkembangan konflik di Timur Tengah. Menurutnya, penutupan Selat Hormuz akan mengganggu distribusi minyak global karena jalur tersebut merupakan salah satu rute pelayaran energi terpenting di dunia.

"Secara resmi Selat Hormuz ditutup total. Sehingga, hal ini akan berpengaruh terhadap transportasi minyak pada hari Senin," katanya.

Selain Timur Tengah, Ibrahim juga menyoroti konflik Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung. Menurutnya, serangan terhadap fasilitas energi Rusia dapat mengurangi produksi minyak negara tersebut sehingga menambah tekanan terhadap pasokan minyak dunia.

"Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap instalasi minyak. Dampaknya, produksi minyak Rusia mengalami penurunan dan hal itu akan memperkuat harga minyak mentah," ujarnya.

Di sisi lain, ia menilai dinamika politik masih menjadi faktor dominan dibandingkan kondisi fundamental pasar. Meskipun saat ini terjadi kelebihan pasokan (oversupply), ketegangan geopolitik dinilai mampu mengubah arah pergerakan harga minyak dalam waktu singkat.

"Walaupun kita melihat terjadi oversupply, rupanya politik sangat memengaruhi penguatan harga minyak mentah dunia," kata Ibrahim.

Lebih lanjut, Ibrahim menilai kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di Amerika Serikat. Kondisi tersebut dapat mendorong bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga apabila gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama.

Ia mengatakan pasar juga akan mencermati rilis data inflasi konsumen dan produsen Amerika Serikat pada pekan depan. Menurutnya, apabila Selat Hormuz tetap ditutup sehingga harga minyak terus meningkat, tekanan inflasi diperkirakan kembali menguat dan memengaruhi arah kebijakan bank sentral AS.

Sebagai catatan, perkembangan terbaru menunjukkan pasar minyak masih sangat sensitif terhadap situasi di Selat Hormuz. Meskipun harga minyak sempat melemah pada penutupan perdagangan akhir pekan, minyak Brent dan WTI tetap membukukan kenaikan mingguan di tengah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya