JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 menyebabkan kerusakan di 94 titik jalan dan jembatan.
Berdasarkan pendataan awal Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT hingga 20 Agustus 2026, kerusakan tersebut terdiri atas 75 titik longsoran, tiga titik jalan amblas, serta 16 jembatan dan duiker.
Tim Satuan Tugas Tanggap Darurat Bencana Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PU telah melakukan pemeriksaan lapangan di 34 titik longsoran dan sembilan jembatan atau duiker.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, sejak hari pertama gempa terjadi, dirinya telah menginstruksikan jajaran balai di wilayah NTT untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mendukung penanganan infrastruktur pascabencana.
"Kesiapan personel, alat berat, serta koordinasi dengan pemerintah daerah menjadi bagian penting untuk memastikan infrastruktur yang terdampak dapat segera dipulihkan," kata Dody dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026).
Penanganan infrastruktur dilakukan secara bertahap. Pada titik longsoran yang mengganggu badan jalan, tim melakukan pembersihan material dan pengamanan agar kendaraan tetap dapat melintas.
Sementara itu, pada lokasi yang memiliki potensi longsor susulan atau mengalami kerusakan struktur, Kementerian PU menyiapkan penanganan permanen.
Di ruas Ruteng–Reo–Kedindi, misalnya, material batuan yang menutup badan jalan telah dibersihkan. Untuk mengantisipasi longsor susulan, Kementerian PU menyiapkan pemasangan rock bolt, wire mesh, dan rockfall barrier. Setelah penanganan darurat dilakukan, lalu lintas di lokasi tersebut tetap dapat berfungsi dua arah.
Penanganan serupa dilakukan di ruas Ruteng–Km 210 dan Km 210–Batas Kabupaten Manggarai. Selain membersihkan material longsoran dan batuan, Kementerian PU memasang rambu peringatan, menutup retakan pada badan dan bahu jalan, serta membersihkan saluran.
Pada sejumlah lokasi yang membutuhkan penanganan permanen, penguatan lereng juga disiapkan menggunakan rock bolt dan jaring pengaman.
Di wilayah Ende, penanganan dilakukan pada sejumlah titik di ruas Aegela–Batas Kota Ende, Batas Kota Ende–Detusoko, Junction–Wolowaru, serta Wolowaru–Lianunu.
Pembersihan material longsoran telah dilakukan, sementara bahu jalan yang terdampak diperkuat. Beberapa lokasi juga disiapkan untuk penanganan permanen melalui pembangunan dinding penahan tanah, shotcrete, jaring aktif, dan sistem drainase.
Kementerian PU memastikan kondisi 15 ruas jalan nasional yang terdampak gempa secara umum masih fungsional. Arus kendaraan, termasuk distribusi logistik dan BBM, juga masih berjalan lancar.
Selain jalan, pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah jembatan yang terdampak. Penanganan mencakup expansion joint, elastomer, abutment, dinding sayap, hingga elemen pengaman sungai.
Salah satu jembatan yang terdampak adalah Jembatan Nanga Roro di ruas Aegela–Batas Kota Ende. Hasil pemeriksaan menemukan kerusakan pada sejumlah elemen, termasuk balok penahan gempa, fondasi yang mengalami gerusan, dinding penahan tanah, wingwall, dan expansion joint.
Kementerian PU telah menyiapkan penanganan sementara untuk mengamankan struktur dan area sekitar jembatan. Sementara itu, rehabilitasi permanen juga disiapkan untuk dilaksanakan pada tahun ini.
Melalui BPJN NTT dan pemerintah daerah, Kementerian PU terus memantau kondisi infrastruktur yang terdampak, termasuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan lanjutan akibat gempa susulan.
Penanganan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan pengguna jalan serta menjaga keberlanjutan akses masyarakat di wilayah Flores.
(Feby Novalius)